Ayah saya meninggal karena serangan jantung ketika saya berusia 15 tahun. Saya diintimidasi tanpa ampun di sekolah menengah. Saya pernah mengalami perceraian - semua hal yang tidak - terlalu - hebat itu adalah bagian dari diri saya, dan hal itu memberi saya tempat untuk dituju ketika saya meliput kisah-kisah itu di berita. Saya lebih berempati, lebih relatable karena mereka.
(My dad died of a heart attack when I was 15. I was bullied mercilessly in middle school. I went through a divorce - those not - so - great things are all a part of me, and they give me a place to go when I cover those stories on the news. I'm more empathetic, more relatable because of them.)
Kutipan ini memberikan contoh bagaimana pengalaman hidup yang paling menantang dapat menjadi sumber kekuatan dan empati. Menghadapi kehilangan seorang ayah di usia muda, mengalami penindasan yang intens, dan menghadapi kesulitan dalam perceraian adalah kesulitan besar yang membentuk perspektif seseorang terhadap kehidupan dan kerentanan manusia. Daripada membiarkan kesulitan ini menjadi beban, individu memilih untuk menerimanya sebagai bagian integral dari identitasnya. Pola pikir ini menumbuhkan empati yang mendalam, yang tidak hanya memperkaya pertumbuhan pribadi mereka tetapi juga meningkatkan pekerjaan profesional mereka, terutama dalam bidang bercerita atau jurnalisme. Saat meliput cerita yang melibatkan rasa sakit, kehilangan, atau kesulitan, individu tersebut dapat terhubung secara lebih otentik dengan subjek dan audiensnya, dengan menyadari bahwa kesulitan adalah pengalaman universal. Lebih jauh lagi, keterbukaan ini menggarisbawahi pentingnya ketahanan—bagaimana kesulitan, ketika diakui dan diintegrasikan, dapat menghasilkan rasa kasih sayang dan pengertian yang mendalam. Narasi mereka mengingatkan kita bahwa luka di masa lalu bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda ketahanan dan jalan menuju empati yang lebih besar. Hal ini mendorong kita untuk menerima kesulitan hidup sebagai peluang untuk pengembangan diri dan sebagai alat untuk membina hubungan antarmanusia yang sejati. Perspektif ini dapat menginspirasi orang lain untuk melihat perjuangan mereka bukan sebagai beban namun sebagai katalis untuk pertumbuhan dan empati, memperkuat gagasan bahwa kesulitan dapat menjadi guru yang kuat dan landasan untuk membangun hubungan yang bermakna dan penuh kasih sayang.