Janji politik mirip dengan janji pernikahan. Hal ini dibuat pada awal hubungan antara kandidat dan pemilih, namun segera terlupakan.

Janji politik mirip dengan janji pernikahan. Hal ini dibuat pada awal hubungan antara kandidat dan pemilih, namun segera terlupakan.


(Political promises are much like marriage vows. They are made at the beginning of the relationship between candidate and voter, but are quickly forgotten.)

πŸ“– Dick Gregory

🌍 Amerika  |  πŸ‘¨β€πŸ’Ό Pelawak

πŸŽ‚ October 12, 1932  β€“  ⚰️ August 19, 2017
(0 Ulasan)

Kutipan ini menyoroti pola yang terus-menerus diamati dalam dunia politik: kesenjangan antara janji-janji yang dibuat selama kampanye dan kenyataan yang terjadi setelah politisi memperoleh kekuasaan. Janji-janji kampanye sering kali dibuat dengan bahasa persuasif untuk menarik harapan dan aspirasi pemilih, sehingga menciptakan suasana kepercayaan dan antisipasi. Namun, setelah terpilih, banyak politisi menghadapi kompleksitas pemerintahan, yang mungkin memerlukan kompromi atau keputusan pragmatis yang berbeda dari janji-janji awal. Seiring berjalannya waktu, janji-janji tersebut cenderung memudar, dibayangi oleh tuntutan dan kendala kehidupan politik. Siklus ini dapat menimbulkan kekecewaan dan skeptisisme masyarakat terhadap integritas politik, sehingga memicu siklus ketidakpercayaan. Analogi janji pernikahan menggarisbawahi rapuhnya komitmen ketika tidak didukung oleh upaya berkelanjutan dan ketulusan. Sama seperti janji yang dibuat di pesta pernikahan, janji dapat dibuat dengan tulus namun bisa gagal karena tekanan hidup, terutama jika prioritasnya berubah atau jika akuntabilitasnya kurang. Bagi para pemilih, kesadaran ini harus menjadi pengingat untuk mengevaluasi secara kritis klaim-klaim politik, memahami bahwa janji-janji sering kali bersifat aspirasional dan bukan jaminan. Hal ini mendorong pemilih yang lebih terlibat dan memiliki informasi yang menuntut transparansi dan tindak lanjut dari perwakilan mereka. Pada akhirnya, kutipan tersebut menekankan pentingnya integritas dan akuntabilitas dalam kepemimpinan, mengingatkan kita bahwa kepercayaan dibangun melalui tindakan yang konsisten, bukan hanya kata-kata.

Page views
42
Pembaruan
Januari 06, 2026

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.