Rasa adalah salah satu dari panca indera, dan orang yang mengatakan kepada kita dengan sombong bahwa dia tidak peduli dengan apa yang dia makan hanyalah membual atas kekurangannya yang menyedihkan: dia mungkin juga bangga menjadi tuli atau buta, atau, karena kepala terus-menerus kedinginan, karena tidak memiliki indra penciuman.

Rasa adalah salah satu dari panca indera, dan orang yang mengatakan kepada kita dengan sombong bahwa dia tidak peduli dengan apa yang dia makan hanyalah membual atas kekurangannya yang menyedihkan: dia mungkin juga bangga menjadi tuli atau buta, atau, karena kepala terus-menerus kedinginan, karena tidak memiliki indra penciuman.


(Taste is one of the five senses, and the man who tells us with priggish pride that he does not care what he eats is merely boasting of his sad deficiency: he might as well be proud of being deaf or blind, or, owing to a perpetual cold in the head, of being devoid of the sense of smell.)

πŸ“– E. F. Benson

🌍 Bahasa inggris  |  πŸ‘¨β€πŸ’Ό Novelis

πŸŽ‚ July 24, 1867  β€“  ⚰️ February 29, 1940
(0 Ulasan)

Kutipan ini menekankan pentingnya indera perasa sebagai aspek penting dari pengalaman manusia. Hal ini menunjukkan bahwa mengabaikan pentingnya rasa sama saja dengan dengan bangga mengklaim ketidakpedulian terhadap persepsi sensorik paling dasar seseorang. Perbandingan dengan ketulian, kebutaan, atau kehilangan penciuman menggarisbawahi betapa integralnya indra-indra ini dalam memahami dan berinteraksi dengan dunia di sekitar kita. Mengabaikan atau mengabaikan apresiasi rasa dan tekstur mengurangi kapasitas seseorang untuk menikmati dan berhubungan dengan seni kuliner, namun hal ini juga secara metaforis mencerminkan sikap yang lebih luas dalam mengabaikan kesenangan hidup.

Memahami rasa lebih dari sekadar makanan; itu melibatkan dimensi budaya, emosional, dan sosial. Berbagi makanan, menikmati rasa, dan menjelajahi beragam masakan memperkaya hubungan antarmanusia dan pertumbuhan pribadi. Ketika seseorang membual karena mengabaikan pengalaman seperti itu, hal ini menunjukkan kurangnya kerendahan hati atau mungkin penilaian yang salah terhadap penghematan yang menghilangkan kekayaan kehidupan.

Kutipan tersebut berfungsi sebagai pengingat untuk memupuk indra kita dan menghargai detail kecil namun mendalam yang membuat hidup bersemangat. Pengalaman indrawi seperti rasa sangat terkait dengan ingatan, tradisi, dan identitas. Misalnya, hidangan sederhana bisa membangkitkan nostalgia atau melambangkan warisan budaya. Mengabaikan atau meremehkan perasaan-perasaan seperti itu berarti menyangkal selapis kedalaman pengalaman manusia. Secara keseluruhan, perspektif ini mendorong kita untuk menghargai indra kita dan menyadari pentingnya indra dalam menjalani kehidupan yang kaya akan indera.

Page views
228
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.