Pertunjukan 'American Idol' dan 'X Factor', merupakan pertunjukan yang hebat. Tapi saya pikir saya perlu membuat pertunjukan seperti itu, yang ditujukan langsung kepada para artis yang tidak mendapat perhatian, yang tidak mempunyai uang untuk membuat diri mereka terwakili.
(The 'American Idol' and 'X Factor' shows, they're great shows. But I think I need to make a show like that, directed straight to the hood, to the artists that don't get the attention, that don't have the money to make themselves representable.)
Kutipan ini berbicara tentang pentingnya inklusivitas dan keterwakilan dalam industri hiburan. Acara seperti 'American Idol' dan 'The X Factor' telah membuka jalan bagi calon artis untuk menampilkan bakat mereka di panggung nasional. Namun, terlepas dari popularitasnya, mereka sering kali menampilkan demografi tertentu yang memiliki sumber daya atau visibilitas untuk berpartisipasi, sehingga tidak menyertakan individu-individu berbakat dari komunitas yang kurang terlayani atau terpinggirkan. Aspirasi yang diungkapkan di sini menyoroti keinginan untuk menciptakan sebuah platform khusus bagi para seniman yang terabaikan ini—mereka yang berasal dari 'kelompok' dan tidak memiliki sarana finansial untuk mempromosikan diri mereka sendiri. Inisiatif semacam ini dapat mendemokratisasi akses terhadap ketenaran dan pengakuan, sehingga memungkinkan talenta mentah untuk bersinar tanpa memandang status sosial ekonomi. Hal ini menantang sifat elitis dari hiburan arus utama, dengan menekankan bahwa bakat ada di mana-mana, tidak hanya di kalangan masyarakat kaya atau di antara mereka yang memiliki koneksi dengan industri. Membuat acara yang menyasar komunitas yang kurang terwakili juga dapat menumbuhkan kebanggaan komunitas, memberikan peluang ekonomi, dan menginspirasi generasi mendatang untuk mengejar minat mereka tanpa hambatan. Hal ini merupakan pengingat bahwa hiburan harus mencerminkan keberagaman masyarakat dan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan agar suaranya didengar. Upaya untuk menyoroti talenta tersembunyi selaras dengan nilai-nilai sosial yang lebih luas, yaitu kesetaraan dan inklusi, dan upaya ini mengakui bahwa talenta tidak dibatasi oleh status sosial ekonomi. Pendekatan transformatif ini dapat membentuk kembali persepsi dan mengangkat cerita dari kelompok pinggiran menjadi cerita yang umum, sehingga memperkaya tatanan budaya secara keseluruhan.