Runtuhnya Menara Babel mungkin merupakan mitos utama perkotaan. Hal ini tentu saja merupakan hal yang paling meresahkan. Di Babilonia, kota besar yang mempesona dan menakutkan para penulis Alkitab, orang-orang dari berbagai ras dan bahasa, bersatu dalam mengejar kekayaan, untuk pertama kalinya mencoba hidup bersama - dan gagal.

Runtuhnya Menara Babel mungkin merupakan mitos utama perkotaan. Hal ini tentu saja merupakan hal yang paling meresahkan. Di Babilonia, kota besar yang mempesona dan menakutkan para penulis Alkitab, orang-orang dari berbagai ras dan bahasa, bersatu dalam mengejar kekayaan, untuk pertama kalinya mencoba hidup bersama - dan gagal.


(The collapse of the Tower of Babel is perhaps the central urban myth. It is certainly the most disquieting. In Babylon, the great city that fascinated and horrified the Biblical writers, people of different races and languages, drawn together in pursuit of wealth, tried for the first time to live together - and failed.)

📖 Neil MacGregor

🌍 Inggris  |  👨‍💼 Sejarawan

(0 Ulasan)

Kisah Menara Babel telah lama menjadi cerminan mendalam mengenai ambisi manusia dan konsekuensi tak terduga dari kesatuan dalam keberagaman. Ini melambangkan puncak pencapaian kolektif umat manusia dan kejatuhan tragis yang terjadi setelah keangkuhan. Narasi Babel merangkum keinginan gigih kita untuk menyatukan dan mengangkat diri kita sendiri, berjuang untuk mencapai kejayaan melalui prestasi yang monumental. Namun, hal ini juga memperingatkan kita akan bahaya yang menyertai upaya tersebut ketika keangkuhan mengabaikan batasan ilahi atau alamiah. Secara historis, Babel mewakili perpaduan budaya, bahasa, dan aspirasi, yang mewujudkan potensi kreatif dan perpecahan yang melekat dalam peradaban manusia. Mitos ini terus bergema selama berabad-abad, mengingatkan kita akan kekacauan yang terjadi ketika komunikasi terputus dan perbedaan ditangani secara salah. Hal ini menantang kita untuk mempertimbangkan bagaimana masyarakat multikultural mengelola hidup berdampingan dan pentingnya pemahaman dalam membentuk komunitas yang berketahanan. Ketika kota-kota modern semakin beragam, kisah ini mendorong kita untuk merefleksikan tanggung jawab kita bersama—perlunya dialog, empati, dan kerendahan hati di tengah kemajuan yang ada. Pada akhirnya, keruntuhan ini bukan semata-mata kegagalan arsitektur, namun juga peringatan terhadap bahaya melampaui batas dan mengabaikan harmonisasi suara-suara yang beragam. Mitos Babel tetap menjadi pusat perhatian karena merangkum kebenaran abadi tentang sifat manusia, ambisi, dan pentingnya komunikasi penuh kasih dalam membangun peradaban yang langgeng.

Page views
962
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.