Penduduknya adalah kotanya.
(The people are the city.)
Kutipan ini merangkum gagasan mendasar bahwa kota lebih dari sekedar bangunan, jalan, dan infrastruktur; itu terdiri dari penduduknya. Manusia adalah detak jantung yang membuat kota tetap hidup, bersemangat, dan dinamis. Tanpa warganya, sebuah kota kehilangan jiwa dan tujuannya. Perspektif ini mendorong kita untuk memandang ruang kota bukan hanya sekedar entitas fisik namun sebagai komunitas yang penuh dengan cerita, aspirasi, dan kontribusi individu. Energi kolektif dan keberagaman penduduk kota memberinya karakter dan ketahanan. Setiap orang, mulai dari pekerja lepas yang bekerja di startup kecil hingga orang lanjut usia yang menikmati jalan-jalan sehari-hari, menambahkan benang merah pada tatanan kota.
Pemahaman akan hal ini menekankan pentingnya membina komunitas, memupuk kohesi sosial, dan merancang lingkungan perkotaan yang memprioritaskan kesejahteraan masyarakat. Hal ini mengingatkan para pembuat kebijakan dan perencana kota bahwa infrastruktur dan estetika sangatlah penting, namun pada akhirnya, kemakmuran sebuah kota bergantung pada kualitas hidup, inklusi, dan partisipasi masyarakatnya. Ketika warga merasa memiliki dan bangga, mereka berkontribusi positif terhadap pertumbuhan dan keberlanjutan kota. Sebaliknya, pengabaian terhadap unsur kemanusiaan berisiko menimbulkan keterasingan, kesenjangan, dan pembusukan.
Intinya, kutipan ini memperjuangkan gagasan bahwa esensi sejati dan vitalitas sebuah kota berasal dari penduduknya. Kota akan berkembang ketika penduduknya terlibat, diberdayakan, dan terhubung. Hal ini mencerminkan gagasan bahwa dalam kehidupan perkotaan, setiap individu merupakan benang merah yang sangat penting.