Kecuali kedua belah pihak menang, tidak ada kesepakatan yang bersifat permanen.
(Unless both sides win, no agreement can be permanent.)
Kutipan ini menyoroti prinsip dasar saling menguntungkan dalam penyelesaian konflik dan negosiasi. Dalam perselisihan atau negosiasi apa pun, gagasan mengenai kesepakatan yang benar-benar langgeng bergantung pada konsep hasil yang saling menguntungkan. Ketika hanya satu pihak yang diuntungkan, pihak lain akan merasa tidak puas, yang sering kali menyebabkan konflik di masa depan atau rusaknya kerja sama. Seperti kata pepatah, perjanjian berkelanjutan berakar pada keadilan dan kepuasan bersama, sehingga memastikan kedua belah pihak merasa diakui dan dihargai. Konsep ini sangat relevan dalam konteks diplomatik, urusan bisnis, dan hubungan pribadi, menekankan bahwa kompromi dan pemahaman membentuk ikatan terkuat dan solusi paling tangguh.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini mendorong kita untuk berpikir lebih jauh dari skenario zero-sum di mana keuntungan satu pihak adalah kerugian bagi pihak lain. Sebaliknya, hal ini mendorong strategi yang bertujuan untuk menciptakan nilai bagi semua pihak yang terlibat, menumbuhkan kepercayaan dan kolaborasi dalam menghadapi persaingan dan konfrontasi. Mencapai hasil yang seimbang dapat menjadi suatu tantangan, terutama ketika kepentingan-kepentingan saling bertentangan atau mengakar kuat, namun manfaat jangka panjangnya sangat besar. Hal ini mengurangi kemungkinan perselisihan di masa depan, meningkatkan stabilitas, dan memupuk niat baik.
Lebih lanjut, gagasan ini menggarisbawahi pentingnya empati, mendengarkan, dan fleksibilitas dalam negosiasi. Hal ini mengingatkan kita bahwa tujuan utama yang ingin dicapai adalah solusi yang mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi semua pihak, dan bukan kemenangan langsung bagi sebagian pihak dengan mengorbankan pihak lain. Oleh karena itu, perdamaian dan stabilitas—baik dalam ranah pribadi, politik, atau internasional—akan lebih mungkin dipertahankan jika perjanjian benar-benar saling menguntungkan.
Pada akhirnya, kebijaksanaan dari kutipan ini adalah seruan untuk keselarasan, pengertian, dan keadilan—sebuah prinsip panduan untuk menciptakan kesepakatan yang bertahan dan memperkuat hubungan seiring berjalannya waktu.