Kami tidak keren dan tidak akan pernah keren.
(We aren't cool and never will be.)
Kutipan ini menyajikan pengakuan jujur tentang persepsi diri yang bisa merendahkan sekaligus membebaskan. Ungkapan "Kami tidak keren dan tidak akan pernah keren" menunjukkan penerimaan identitas seseorang tanpa kebutuhan atau keinginan untuk menyesuaikan diri dengan apa yang biasanya dianggap 'keren' oleh masyarakat. Ini menghilangkan segala kepura-puraan dan merangkul diri-sejati yang tidak bergantung pada validasi atau popularitas eksternal.
Di dunia di mana media sosial dan narasi budaya sering kali menetapkan standar tinggi untuk kesejukan — baik melalui fesyen, status, atau perilaku — kutipan ini mengingatkan bahwa upaya untuk menjadi 'keren' bisa jadi sia-sia, bahkan merugikan. Sebaliknya, hal ini menunjukkan pola pikir untuk menerima kekurangan, keterbatasan, dan individualitas seseorang tanpa berusaha menyesuaikan diri dengan cita-cita yang seringkali tidak realistis dan cepat berlalu.
Ada keberanian yang melekat dalam mengakui "kita tidak akan pernah" keren, terutama jika pengakuan tersebut mengakui identitas kelompok atau kolektif yang memiliki karakteristik atau perasaan yang sama. Aspek kolektif ini mendorong kesatuan melalui keaslian bersama, menunjukkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak mengejar tren atau persetujuan. Hal ini menantang anggapan bahwa nilai kita ditentukan oleh seberapa 'keren' kita di mata orang lain, dan malah mendorong kita untuk percaya diri pada diri kita yang sebenarnya.
Terlebih lagi, kutipan ini mungkin menyiratkan kritik terhadap nilai-nilai yang dangkal. Dengan langsung menyangkal label kesejukan, hal ini menarik perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting di luar penampilan. Ironi tersebut bahkan dapat menumbuhkan semacam kesejukan yang halus dalam kejujuran dan kesadaran diri — merayakan hubungan yang tulus, kedalaman karakter, dan kebenaran batin.
Intinya, kutipan tersebut bergema karena mendorong penerimaan diri, identitas kolektif, dan penolakan terhadap ekspektasi sosial yang dangkal, memberikan ruang bagi hubungan yang lebih dalam dan cara yang lebih bermakna dalam memandang diri sendiri dan orang lain.