Kami hanya punya sedikit barang. Saya punya sepasang celana jins, sepasang kemeja. Begitu pula dengan ibu dan adikku. Saya pikir saudara perempuan saya punya, misalnya, dua mainan. Kami hidup dari mie instan.

Kami hanya punya sedikit barang. Saya punya sepasang celana jins, sepasang kemeja. Begitu pula dengan ibu dan adikku. Saya pikir saudara perempuan saya punya, misalnya, dua mainan. Kami hidup dari mie instan.


(We had very few things. I had a couple pairs of jeans, a couple shirts. And same with my mom and sister. I think my sister had, like, two toys. We were living off of instant noodles.)

📖 Brie Larson

🌍 Amerika

(0 Ulasan)

Kutipan tersebut dengan tajam menyoroti masa-masa yang penuh kesederhanaan dan mungkin masa-masa sulit, ketika harta benda hanya sedikit dan kenyamanan sangat minim. Hal ini memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan sederhana, di mana kebutuhan pokok sangat langka dan kemewahan hampir tidak ada. Penyebutan bahwa ia hanya memiliki sepasang celana jins dan kemeja, serta detail tentang saudarinya yang hanya memiliki dua mainan, menggarisbawahi kehidupan yang sederhana. Hal ini merupakan pengingat akan ketahanan dan kemampuan beradaptasi yang dibutuhkan dalam kondisi seperti ini.

Hidup dari mie instan melambangkan tidak hanya kendala finansial namun juga ketekunan dalam menghadapi masa-masa sulit. Mie instan, sering dikaitkan dengan penghematan dan kemudahan, mewakili kepuasan terhadap apa yang tersedia, mencerminkan narasi perjuangan yang diimbangi dengan tekad. Narasi ini bergema secara universal karena semua orang tahu bagaimana rasanya memiliki lebih sedikit dari yang mereka inginkan, namun tetap melanjutkan hidup.

Ekspresi Brie Larson memberikan gambaran manusiawi tentang kerentanan dan kecerdikan, menunjukkan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh kelimpahan namun oleh ketahanan melalui kelangkaan. Hal ini juga merupakan bukti kekuatan yang ditemukan dalam sistem dukungan keluarga, di mana bahkan dalam keadaan terbatas, kehadiran dan solidaritas orang-orang terkasih menjadi landasan kelangsungan hidup dan harapan. Kutipan tersebut dengan lembut mendorong pembaca menuju empati dan pemahaman yang lebih dalam tentang berbagai pengalaman hidup, mengingatkan kita bahwa kerendahan hati dan rasa syukur sering kali tumbuh dari kesulitan.

Page views
54
Pembaruan
Juni 08, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.