Kita mempunyai begitu banyak remaja putra, khususnya, yang tumbuh tanpa ayah mereka. Kita harus mengisi kekosongan itu. Kita harus melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam membantu kaum muda melihat apa artinya menjadi seorang pria, apa artinya menjadi seorang wanita. Dan kemudian, entah bagaimana, kita harus menyatukan kembali struktur keluarga itu.
(We have so many young men, especially, who are growing up without their dads. We have to fill that void. We have to do a better job helping young people see what it means to be a man, what it means to be a woman. And then, somehow, we have to put that family structure back together.)
Kutipan ini membahas peran penting stabilitas keluarga dan teladan positif dalam membentuk nilai-nilai dan identitas generasi muda. Hal ini menyoroti tanggung jawab masyarakat untuk memupuk rasa kejantanan dan kewanitaan melalui bimbingan, dukungan, dan membangun kembali ikatan keluarga. Menyadari dampak ketidakhadiran orang tua menekankan pentingnya upaya masyarakat dan langkah-langkah proaktif untuk memastikan bahwa setiap remaja mempunyai kesempatan untuk tumbuh dengan hubungan yang kuat dan mendukung. Membina hubungan ini dapat menghasilkan individu dan komunitas yang lebih sehat dan tangguh, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.