Saat aku bersekolah di sekolah drama, aku tahu setidaknya aku sama berbakatnya dengan siswa lain, tapi karena aku seorang pria kulit hitam dan aku tidak cantik, aku tahu aku harus bekerja keras untuk menjadi yang terbaik, dan agar diperhatikan.

Saat aku bersekolah di sekolah drama, aku tahu setidaknya aku sama berbakatnya dengan siswa lain, tapi karena aku seorang pria kulit hitam dan aku tidak cantik, aku tahu aku harus bekerja keras untuk menjadi yang terbaik, dan agar diperhatikan.


(When I went to drama school, I knew I was at least as talented as other students, but because I was a black man and I wasn't pretty, I knew I would have to work my butt off to be the best that I would be, and to be noticed.)

📖 Lance Reddick

🌍 Amerika  |  👨‍💼 Aktor

(0 Ulasan)

Kutipan ini menyoroti dampak luas dari bias rasial dan standar kecantikan masyarakat bahkan dalam lingkungan pendidikan khusus seperti sekolah drama. Pembicaranya, Lance Reddick, dengan jujur ​​​​mengakui keyakinannya pada bakatnya namun sekaligus mengakui rintangan tambahan yang dia hadapi karena ras dan penampilannya. Hal ini memberikan contoh bagaimana kelompok marginal sering kali harus melakukan upaya ekstra tidak hanya untuk membuktikan keterampilan mereka, namun juga untuk mengatasi stereotip dan persepsi diskriminatif yang dapat menghambat visibilitas dan peluang.

Pengakuan untuk bekerja lebih keras agar diakui selaras dengan perjuangan yang lebih luas untuk mencapai kesetaraan di berbagai bidang. Hal ini menggarisbawahi pentingnya ketahanan dan ketekunan dalam menghadapi hambatan sistemik. Dengan berbagi pengalaman pribadi ini, Reddick menekankan perlunya masyarakat untuk merefleksikan bias mereka dan berupaya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif yang menghargai bakat dan dedikasi tanpa memandang penampilan fisik atau latar belakang ras.

Perspektif ini juga menumbuhkan empati dan pemahaman—mengingatkan kita bahwa kesuksesan sering kali terkait dengan mengatasi prasangka, dan bahwa prestasi saja tidak selalu menjamin pengakuan atau kemajuan. Kutipan tersebut merupakan seruan inspiratif untuk mendapatkan pengakuan yang adil, mendorong individu-individu yang terpinggirkan untuk tetap bertahan meskipun ada hambatan. Selain itu, hal ini mendorong institusi untuk memeriksa bias mereka sendiri dan mempertimbangkan bagaimana mereka dapat lebih suportif dan adil dalam membina talenta.

Pada akhirnya, refleksi ini mendorong dialog berkelanjutan tentang keberagaman, kesetaraan, dan inklusi, mengingatkan semua orang akan pentingnya mengakui upaya dan pencapaian tanpa prasangka. Hal ini menyoroti bahwa bakat dan komitmen sejati perlu dipenuhi dengan pikiran terbuka dan peluang yang adil, sehingga menambah suara penting dalam pembicaraan tentang keadilan sosial dan tekad pribadi.

Page views
94
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.