Anda harus hidup terburu-buru di perpustakaan. Perguruan tinggi tidak akan ada gunanya kecuali Anda dibesarkan dan tinggal di perpustakaan setiap hari dalam hidup Anda.
(You must live feverishly in a library. Colleges are not going to do any good unless you are raised and live in a library everyday of your life.)
Kutipan tersebut menekankan pentingnya membenamkan diri secara mendalam dalam dunia buku dan pengetahuan, menunjukkan bahwa pembelajaran sejati berasal dari keterlibatan yang penuh semangat, bukan dari pendidikan formal saja. Ungkapan “hidup terburu-buru di perpustakaan” membangkitkan rasa keingintahuan yang kuat dan pencarian pengetahuan yang tiada henti, mendorong individu untuk menjadikan perpustakaan sebagai rumah bagi pertumbuhan intelektual mereka. Hal ini menantang gagasan tradisional bahwa institusi seperti perguruan tinggi bertanggung jawab penuh atas pendidikan, dan sebaliknya menyiratkan bahwa eksplorasi mandiri di dalam perpustakaan—lebih jauh lagi, melalui membaca dan belajar terus-menerus—adalah hal mendasar bagi pengembangan pribadi.
Perspektif ini menggarisbawahi kekuatan transformatif dari interaksi yang teratur dan antusias dengan literatur, ide, dan informasi. Ketika seseorang mengelilingi dirinya dengan buku setiap hari, mereka menumbuhkan lingkungan yang kaya akan pembelajaran berkelanjutan, imajinasi, dan pemikiran kritis. Metafora tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak boleh berupa pencarian yang pasif atau sesekali, melainkan upaya yang gigih dan penuh semangat—mirip dengan hidup dalam ruang penemuan terus-menerus.
Dari sudut pandang pendidikan, kutipan tersebut menganjurkan pendidikan mandiri dan pembelajaran seumur hidup, daripada hanya mengandalkan sekolah formal. Hal ini menyoroti pentingnya menumbuhkan kebiasaan rasa ingin tahu dan antusiasme untuk belajar sebagai bagian inti dari kehidupan seseorang. Dengan menumbuhkan semangat ini, individu dapat mengembangkan pemahaman yang komprehensif dan beragam tentang dunia, yang mungkin tidak sepenuhnya disediakan oleh pendidikan formal.
Pada akhirnya, pesan tersebut mendorong kita untuk melihat perpustakaan tidak hanya sebagai gudang informasi tetapi juga sebagai kuil inspirasi dan pertumbuhan. Tinggal di perpustakaan, dalam konteks ini, melambangkan komitmen terhadap pencerahan pribadi, eksplorasi intelektual, dan rasa haus yang tak terpuaskan akan pengetahuan—nilai-nilai yang membantu setiap orang dalam mengejar kebijaksanaan dan pengembangan diri.