Orang yang saleh adalah orang yang akan menjadi atheis jika rajanya atheis.

Orang yang saleh adalah orang yang akan menjadi atheis jika rajanya atheis.


(A pious man is one who would be an atheist if the king were.)

📖 Jean de la Bruyere

🌍 Perancis  |  👨‍💼 Filsuf

(0 Ulasan)

Kutipan dari Jean de la Bruyère ini mengajak kita untuk merenungkan perbedaan antara kesalehan sejati dan agama yang dangkal atau bermotif sosial. Hal ini menunjukkan bahwa iman yang sejati haruslah tidak tergoyahkan dan bersifat internal, tidak bergantung pada tekanan eksternal, otoritas, atau potensi imbalan. Ketika keyakinan seseorang begitu rapuh sehingga hanya bisa bertahan jika ada persetujuan masyarakat atau politik, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai ketulusan dan kedalaman keyakinan tersebut. Spiritualitas yang autentik berakar pada keyakinan dan prinsip-prinsip internal, bukan rasa takut akan akibat atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan.

Pernyataan tersebut juga menyoroti pengaruh dinamika kekuasaan terhadap keyakinan pribadi. Secara historis, tindakan dan keyakinan individu seringkali sejalan dengan otoritas yang ada, terutama ketika perbedaan pendapat mempunyai dampak yang sangat parah. Jika seseorang meninggalkan keyakinannya ketika dihadapkan pada potensi ketidaksetujuan atau hukuman dari raja, maka ketulusan dan komitmennya dapat diragukan. Sebaliknya, seseorang yang mempertahankan keyakinannya terlepas dari keadaan eksternal menunjukkan integritas moral yang mendalam.

Wawasan ini menunjukkan pentingnya integritas dan keaslian dalam keyakinan seseorang. Hal ini menantang individu untuk memeriksa apakah keyakinan mereka benar-benar merupakan keyakinan mereka sendiri atau sekadar tindakan performatif dalam menanggapi ekspektasi masyarakat. Di zaman modern, hal ini dapat dikaitkan dengan gagasan bahwa etika yang sejati harus tahan terhadap tekanan dan godaan masyarakat.

Pada akhirnya, kutipan tersebut memicu introspeksi mendalam tentang sifat keyakinan dan pentingnya konsistensi internal—mengingatkan kita bahwa kebajikan sejati sering kali diuji ketika keadaan mengancam untuk melemahkannya. Ini adalah seruan untuk keaslian dan keberanian moral, menekankan bahwa kesalehan sejati berakar pada keyakinan internal yang tetap teguh dalam segala situasi, tidak hanya saat nyaman atau aman.

Page views
44
Pembaruan
Juni 28, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.