Apakah kau akan berlutut dan memohon ampun untuk nyawamu, pak tua?" Kepala Biara Mortimer menatap dengan tenang ke mata buas Cluny. "Aku tidak akan pernah bertekuk lutut demi diriku sendiri. Namun, jika saya pikir saya bisa menyelamatkan nyawa salah satu teman saya, saya dengan senang hati akan berlutut. Tapi aku mengenalmu, Cluny, lebih baik daripada kamu mengenal dirimu sendiri. Tak ada sedikitpun rasa iba dan belas kasihan dalam hatimu, yang ada hanyalah hasrat membara untuk membalas dendam. Oleh karena itu, Aku tidak akan berlutut kepada orang yang termakan oleh kejahatan.

Apakah kau akan berlutut dan memohon ampun untuk nyawamu, pak tua?" Kepala Biara Mortimer menatap dengan tenang ke mata buas Cluny. "Aku tidak akan pernah bertekuk lutut demi diriku sendiri. Namun, jika saya pikir saya bisa menyelamatkan nyawa salah satu teman saya, saya dengan senang hati akan berlutut. Tapi aku mengenalmu, Cluny, lebih baik daripada kamu mengenal dirimu sendiri. Tak ada sedikitpun rasa iba dan belas kasihan dalam hatimu, yang ada hanyalah hasrat membara untuk membalas dendam. Oleh karena itu, Aku tidak akan berlutut kepada orang yang termakan oleh kejahatan.


(Are you going to go down on your knees and beg for your life, old one?"Abbot Mortimer stared calmly into Cluny's savage eye. "I will never bend my knee on my own behalf. However, if I thought I could save the life of one of my friends I would gladly fall down on both knees. But I know you, Cluny, better than you know yourself. There is not a scrap of pity or mercy in your heart, only a burning desire for vengeance. Therefore, I will not kneel to one who is consumed by evil.)

πŸ“– Brian Jacques

🌍 Bahasa inggris  |  πŸ‘¨β€πŸ’Ό Penulis

πŸŽ‚ June 15, 1939  β€“  ⚰️ February 5, 2011
(0 Ulasan)

Dalam kutipan dari "Redwall" karya Brian Jacques ini, Kepala Biara Mortimer berdiri teguh di hadapan Cluny yang mengancam. Dia menyampaikan prinsip-prinsipnya yang tak tergoyahkan, menolak mengemis untuk hidupnya sendiri sebagai bentuk kekuatan dan integritas. Karakter Mortimer adalah keyakinan; dia rela merendahkan dirinya hanya demi teman-temannya, menunjukkan pentingnya kesetiaan dibandingkan mempertahankan diri.

Lebih jauh lagi, wawasan Mortimer terhadap karakter Cluny mengungkap pemahaman mendalam tentang sifat manusia. Dia menyadari kurangnya belas kasihan Cluny dan rasa hausnya yang tak henti-hentinya untuk membalas dendam, memperjelas bahwa dia tidak akan tunduk pada kejahatan. Pertemuan ini menyoroti tema keberanian, persahabatan, dan dilema moral yang dihadapi dalam perjuangan antara kebaikan dan kejahatan.

Page views
211
Pembaruan
Oktober 31, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.