Mintalah, maka itu akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan menemukan; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Sebab setiap orang yang meminta, menerima, dan siapa yang mencari, mendapat, dan siapa yang mengetok, pintu akan dibukakan.

Mintalah, maka itu akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan menemukan; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Sebab setiap orang yang meminta, menerima, dan siapa yang mencari, mendapat, dan siapa yang mengetok, pintu akan dibukakan.


(Ask, and it shall be given you; seek, and ye shall find; knock, and it shall be opened unto you. For everyone that asketh receiveth, and he that seeketh findeth, and to him that knocketh it shall be opened.)

(0 Ulasan)

Ayat Alkitab ini merangkum pesan mendalam tentang iman, ketekunan, dan kekuatan kesungguhan dalam mengejar keinginan dan kebutuhan. Hal ini menekankan kebijakan pintu terbuka, yang menunjukkan bahwa permintaan dan pencarian yang tulus akan dihargai dengan tanggapan dan peluang. Dari sudut pandang psikologis, sentimen ini mendorong ketahanan dan keterlibatan aktif terhadap tujuan seseorang daripada harapan pasif. Hal ini menggarisbawahi pentingnya percaya pada proses dan mempertahankan keyakinan bahkan ketika hasil langsung belum terlihat. Metafora ketukan menyoroti nilai ketekunan—terkadang, bantuan ilahi atau bantuan dari luar memerlukan upaya yang gigih sebelum terwujud.

Lebih lanjut, kutipan tersebut mempromosikan pandangan dunia yang optimis, mendorong individu untuk menjalani kehidupan dengan keyakinan bahwa upaya mereka akan diakui dan dihargai. Hal ini juga menyentuh keyakinan spiritual bahwa keterbukaan dan kerendahan hati dalam mencari dapat membawa pada rahmat ilahi atau hasil yang menguntungkan. Meskipun berakar pada konteks agama, konsep ini bergema secara universal: sikap proaktif, kegigihan dalam menghadapi rintangan, dan harapan yang tak tergoyahkan seringkali membawa kesuksesan.

Pesan ini dapat memberikan kebebasan bagi banyak orang, mengingatkan kita bahwa kerentanan dalam meminta dan mencari adalah kekuatan, bukan kelemahan. Hal ini memungkinkan individu untuk mengenali hak pilihan mereka dan mendorong perilaku proaktif, menumbuhkan pola pikir di mana seseorang secara aktif menentukan nasibnya alih-alih secara pasif mengharapkan sesuatu terjadi. Dalam praktiknya, hal ini mengilhami orang untuk tekun dan gigih dalam upaya mereka, baik itu pribadi, profesional, atau spiritual. Pada akhirnya, ia menganjurkan pendekatan aktif terhadap kehidupan, dengan menyatakan bahwa upaya dan keyakinan yang tulus sering kali dihargai dengan keterbukaan, peluang, dan pertumbuhan.

Page views
37
Pembaruan
Juni 27, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.