Pertimbangkan keduanya, laut dan tanah; Dan apakah Anda tidak menemukan analogi yang aneh dengan sesuatu dalam diri Anda? Karena karena lautan yang mengerikan ini mengelilingi tanah hijau, demikian pula jiwa manusia terdapat satu tahiti picik, penuh kedamaian dan kegembiraan, tetapi terungkap oleh semua kengerian kehidupan yang setengah diketahui. Tuhan Keep Engkau! Jangan dorong dari pulau itu, engkau tidak bisa kembali!

Pertimbangkan keduanya, laut dan tanah; Dan apakah Anda tidak menemukan analogi yang aneh dengan sesuatu dalam diri Anda? Karena karena lautan yang mengerikan ini mengelilingi tanah hijau, demikian pula jiwa manusia terdapat satu tahiti picik, penuh kedamaian dan kegembiraan, tetapi terungkap oleh semua kengerian kehidupan yang setengah diketahui. Tuhan Keep Engkau! Jangan dorong dari pulau itu, engkau tidak bisa kembali!


(Consider them both, the sea and the land; and do you not find a strange analogy to something in yourself? For as this appalling ocean surrounds the verdant land, so in the soul of man there lies one insular Tahiti, full of peace and joy, but encompassed by all the horrors of the half known life. God keep thee! Push not off from that isle, thou canst never return!)

πŸ“– Herman Melville

🌍 Amerika  |  πŸ‘¨β€πŸ’Ό Novelis

πŸŽ‚ August 1, 1819  β€“  ⚰️ September 28, 1891
(0 Ulasan)

Kutipan dari "Moby-Dick" Herman Melville ini menghadirkan metafora yang jelas membandingkan lautan dan tanah dengan cara kerja jiwa manusia. Lautan mewakili aspek kehidupan yang kacau dan terkadang menakutkan, sementara tanah melambangkan tempat perlindungan batin yang tenang dan damai. Sama seperti tanah dikelilingi oleh laut yang luas dan tidak dapat diprediksi, setiap orang memiliki bagian yang tenang di dalamnya, terlindung dari kekacauan dunia luar.

Secara mistik, Melville menyarankan agar seseorang harus berhati -hati tentang menjelajah jauh dari tempat perlindungan batin ini. Dengan melakukan itu, ada risiko kehilangan kemampuan untuk kembali ke keadaan damai dan sukacita itu. Refleksi pada dualitas keberadaan manusia ini menantang pembaca untuk mencari keseimbangan, menavigasi kekacauan di sekitarnya tanpa mengorbankan ketenangan batin mereka.

Page views
912
Pembaruan
Oktober 24, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.