Sekalipun hanya ada satu teori terpadu yang mungkin ada, itu hanyalah seperangkat aturan dan persamaan. Apa yang menghembuskan api ke dalam persamaan dan menciptakan alam semesta untuk dideskripsikan?
(Even if there is only one possible unified theory, it is just a set of rules and equations. What is it that breathes fire into the equations and makes a universe for them to describe?)
Kutipan dari Stephen Hawking ini menyentuh misteri mendalam yang mendasari pemahaman kita tentang alam semesta. Hal ini menggarisbawahi fakta bahwa meskipun teori, aturan, dan persamaan kita membentuk kerangka yang digunakan untuk menafsirkan realitas, teori, aturan, dan persamaan tersebut masih kekurangan penjelasan atas esensi yang menjiwai struktur matematika ini—apa yang menyebabkan alam semesta ada? Hal ini mendorong kita untuk mempertimbangkan sifat dasar keberadaan di luar deskripsi matematis. Dalam usaha kita untuk menyatukan hukum-hukum fisika, kita sering fokus pada perolehan dari kondisi-kondisi awal atau aturan-aturan fundamental, namun asal-usul aturan-aturan ini atau kesadaran yang memahami dan memahami struktur ini masih sulit dipahami. Pertanyaan eksistensial ini bukan hanya tentang mekanismenya namun juga tentang percikan api—'api'—yang menghidupkan alam semesta, memberinya makna, dan memungkinkannya untuk dipahami. Hal ini mengundang rasa takjub dan rendah hati, mengingatkan kita bahwa meskipun ada terobosan dalam ilmu pengetahuan, masih ada misteri mendalam yang menantang pemahaman kita. Upaya untuk menjelaskan apa yang menyebabkan persamaan tersebut pada dasarnya adalah upaya untuk memahami keilahian atau esensi fundamental yang mendasari realitas, yang mungkin selamanya berada di luar jangkauan manusia. Misteri yang terus berlanjut ini terus menginspirasi para ilmuwan dan filsuf, ketika mereka berusaha mengungkap struktur fundamental keberadaan kita sambil mengakui keterbatasan pemahaman manusia.