Fasisme adalah konsep agama.

Fasisme adalah konsep agama.


(Fascism is a religious concept.)

📖 Benito Mussolini

🌍 Italia

🎂 July 29, 1883  –  ⚰️ April 28, 1945
(0 Ulasan)

Kutipan Benito Mussolini ini merangkum perspektif yang memandang fasisme bukan sekedar ideologi politik, melainkan sebuah istilah yang dijalin dengan unsur spiritual dan dogmatis. Secara historis, fasisme sering kali dicirikan oleh keyakinan yang kuat terhadap bangsa, penolakan terhadap individualisme, dan penekanan pada persatuan di bawah kepemimpinan yang terpusat dan otoritatif. Ketika mempertimbangkannya sebagai sebuah "konsep keagamaan", hal ini menunjukkan bahwa fasisme mewujudkan kualitas-kualitas yang biasanya dikaitkan dengan agama: keyakinan yang tak tergoyahkan, ritual, identitas kolektif, dan terkadang pembenaran ilahi atas prinsip-prinsipnya. Sudut pandang seperti ini menyoroti bagaimana gerakan politik dapat mengadopsi kualitas-kualitas yang mirip dengan agama, menciptakan sistem kepercayaan yang berlaku untuk semua orang yang menuntut pengabdian dan pengorbanan dari para pengikutnya.

Dari sudut pandang psikologis, membingkai fasisme sebagai agama menunjukkan bagaimana fasisme berfungsi untuk memanfaatkan kebutuhan terdalam masyarakat akan makna dan rasa memiliki. Hal ini bisa menggoda karena menawarkan tujuan dan kepastian moral—sifat yang sering dicari dalam agama tradisional. Dengan mengangkat negara atau pemimpin ke status sakral, rezim fasis memperkuat gagasan tentang otoritas tertinggi, yang berhak mendapatkan kesetiaan mutlak. Persepsi ini dapat menyebabkan individu mengabaikan pertimbangan etis, kebebasan pribadi, atau kritik rasional demi semangat kolektif.

Selain itu, menganalisis fasisme sebagai sebuah konsep keagamaan menggarisbawahi bahayanya memadukan ideologi dengan spiritualitas. Hal ini menunjukkan bagaimana ciri-ciri inti agama—dogma, ritual, otoritas, dan komunitas—dapat digunakan untuk mencapai tujuan politik, seringkali dengan mengorbankan hak asasi manusia dan martabat. Menyadari dinamika ini sangatlah penting untuk memahami kekuatan rezim totaliter dan pentingnya menjaga cita-cita demokrasi dan pluralistik. Pada akhirnya, kutipan ini memancing refleksi tentang bagaimana ideologi dapat mengambil semangat semi-religius, membentuk masyarakat dengan cara yang mendalam dan seringkali berbahaya.

Page views
80
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.