Selamanya adalah waktu yang lama.
(Forever is a long time.)
Kutipan ini merangkum sifat mendalam dari keabadian dan bagaimana persepsi manusia berjuang untuk sepenuhnya memahami konsep waktu tanpa akhir. Ketika kita memikirkan tentang selamanya, seringkali sulit untuk memahami sifat tak terbatas dari rentang waktu tersebut—yang dapat membangkitkan perasaan berharap, takut, atau keduanya. Gagasan tentang selamanya menimbulkan pertanyaan tentang keabadian dan perubahan; hal ini menantang pemahaman kita tentang keduniawian dan tanggung jawab kita dalam rentang yang tak terbatas. Saat mempertimbangkan hubungan, beberapa orang mungkin melihat selamanya sebagai janji yang menghibur, jaminan hubungan abadi, dan kesetiaan tanpa akhir. Orang lain mungkin menganggapnya menakutkan, menyoroti ketidakpastian dan potensi kebosanan yang dapat timbul karena durasi yang tidak terbatas. Secara filosofis, merenungkan selamanya mendorong kita untuk merenungkan pentingnya momen-momen yang kita lalui—betapa fananya hidup kita dan betapa berharganya setiap detik yang kita berikan sebelum kehidupan itu tenggelam dalam kekekalan. Dalam sastra dan seni, selamanya sering digunakan sebagai sarana puisi untuk membangkitkan rasa kerinduan atau keabadian, menekankan konsep-konsep yang melampaui pemahaman manusia. Pada akhirnya, memikirkan tentang selamanya dapat menimbulkan kekaguman sekaligus kerendahan hati—mengingatkan kita akan keterbatasan tempat kita dalam rentang waktu yang luas dan mendorong kita untuk menemukan makna dalam aspek keberadaan yang fana. Hal ini mendorong kita untuk menghargai setiap momen, memahami bahwa bahkan pengalaman yang paling indah atau menyakitkan pun merupakan proses singkat dalam aliran waktu yang tak terbatas, menjadikan setiap pengalaman berharga dan patut dihargai.
---Nuh Kahan---