Manusia selalu dapat diandalkan untuk mengerahkan, dengan penuh semangat, hak yang diberikan Tuhan untuk menjadi bodoh.

Manusia selalu dapat diandalkan untuk mengerahkan, dengan penuh semangat, hak yang diberikan Tuhan untuk menjadi bodoh.


(Human beings can always be relied upon to exert, with vigor, their God-given right to be stupid.)

πŸ“– Dean Koontz

🌍 Amerika  |  πŸ‘¨β€πŸ’Ό Pengarang

πŸŽ‚ July 9, 1945
(0 Ulasan)

Kutipan ini secara lucu dan agak sinis menyoroti aspek mendasar dari sifat manusia: kecenderungan untuk sering memilih ketidaktahuan atau kebodohan meskipun memiliki kapasitas kecerdasan dan pemikiran rasional. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan kita terhadap kebodohan hampir melekat, sebuah hak yang ingin kita pertahankan dengan sekuat tenaga. Pernyataan seperti itu mendorong refleksi terhadap perilaku dan keputusan dalam masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari di mana pilihan yang tidak bijaksana dibuat dengan penuh keyakinan. Istilah ini menunjuk pada keberanian atau kekeraskepalaan manusia dalam berpegang pada keyakinan atau tindakan yang jelas-jelas tidak rasional, mungkin didorong oleh emosi, tradisi, atau informasi yang salah. Kutipan tersebut juga menyiratkan bahwa karena kecenderungan ini sudah mendarah daging, upaya pencerahan, pendidikan, atau akal budi sering kali menghadapi perjuangan berat melawan kecenderungan bawaan atau kebiasaan kita. Ini menantang kita untuk mengenali bias dan kebodohan kita sendiri, mendorong kerendahan hati dan kerendahan hati dalam mengejar pengetahuan. Meskipun nadanya lucu, namun ini berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya berpikir kritis dan kesadaran diri. Memahami bahwa kecenderungan ini ada dapat memotivasi upaya pribadi dan masyarakat menuju pertumbuhan dan pembelajaran, membuat kita tidak terlalu rentan terhadap kebodohan dengan mengakui kerentanan kita. Selain itu, hal ini menekankan bahwa perjuangan melawan kebodohan kita sendiri sedang berlangsung dan mungkin bersifat universal, namun hal tersebut tidak mengurangi nilai perjuangan menuju pencerahan. Di dunia yang penuh dengan misinformasi dan perpecahan, mengakui kecenderungan ini dapat menumbuhkan kesabaran, kasih sayang, dan komitmen terhadap perbaikan diri terus-menerus dan kebijaksanaan kolektif.

Page views
198
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.