Saya ingin membuat film yang tidak hanya menarik bagi penggemar Formula Satu. Itulah yang dilakukan oleh film dokumenter olahraga yang hebat - 'Hoop Dreams', 'When We Were Kings' - yang pertama adalah drama manusia, yang kedua adalah olahraga, jika memang ada.
(I wanted to make a film that wouldn't just appeal to Formula One fans. That's what the great sports documentaries do - 'Hoop Dreams,' 'When We Were Kings' - they're human dramas first, sport second, if at all.)
Kutipan ini menyoroti pemahaman mendalam tentang penceritaan dalam film dokumenter olahraga. Seringkali, film olahraga dianggap sebagai konten semata-mata untuk para peminat yang mengikuti kompetisi atau atlet tertentu. Namun, kekuatan sebenarnya dari film dokumenter olahraga yang menarik terletak pada kemampuannya untuk melampaui batas-batas olahraga itu sendiri dan memanfaatkan tema-tema kemanusiaan yang universal. Dengan merujuk pada film-film ikonik seperti 'Hoop Dreams' dan 'When We Were Kings', pembicara menekankan bahwa kisah-kisah olahraga yang paling berdampak adalah kisah-kisah yang berfokus pada perjuangan pribadi, aspirasi, isu-isu sosial, dan ketahanan manusia, bukan sekadar pertandingan atau performa atletik. Narasi seperti ini berfungsi sebagai cermin atas pertanyaan-pertanyaan masyarakat dan pengalaman pribadi yang lebih luas, menumbuhkan empati dan keterlibatan yang lebih dalam dari khalayak yang lebih luas. Membuat film dengan pola pikir ini melibatkan penceritaan yang mengutamakan pengembangan karakter, kedalaman emosi, dan konteks sosial daripada sekadar menampilkan aksi olahraga. Pada akhirnya, pendekatan ini mengangkat olahraga dari sekedar hiburan menjadi refleksi bermakna dari kompleksitas kehidupan, sehingga dapat diterima oleh pemirsa terlepas dari seberapa familiar mereka dengan olahraga itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa sinematografi dan penceritaan yang kuat dapat menjadikan olahraga sebagai cara yang menarik untuk mengeksplorasi drama kemanusiaan, menantang penonton untuk melihat lebih jauh dari permainan dan terhubung dengan kisah-kisah pribadi yang menjadi intinya.
---Asif Kapadia---