Jika Anda pernah menghadiri Cordon Bleu, Anda pasti tahu bahwa tidak ada wanita yang seharusnya menjadi koki – hanya pria.
(If you've attended the Cordon Bleu, you would know that no woman is supposed to be a chef - only men.)
Kutipan ini menyoroti stereotip gender yang sudah lama ada dan tertanam dalam dunia kuliner, yang menunjukkan bahwa perempuan kurang cocok atau diharapkan untuk tidak mengejar karir memasak profesional, terutama di institusi bergengsi seperti Cordon Bleu. Persepsi seperti ini berakar pada bias sejarah yang telah meminggirkan perempuan dari peran yang secara tradisional dianggap maskulin dan berwibawa. Implikasi bahwa perempuan tidak boleh menjadi koki mencerminkan norma-norma masyarakat yang lebih luas yang mengasosiasikan memasak, terutama di tingkat profesional, dengan maskulinitas dan menempatkan perempuan pada peran domestik atau kuliner yang lebih rendah.
Stereotip ini secara historis membatasi peluang bagi perempuan dan berkontribusi terhadap kesenjangan dalam industri kuliner. Namun, perspektif ini semakin mendapat tantangan karena semakin banyak perempuan yang menjadi koki, pemilik restoran, dan inovator kuliner ternama. Menyadari bahwa keterampilan, bakat, dan semangat tidak ditentukan oleh gender sangatlah penting dalam menciptakan lingkungan inklusif di mana setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk unggul. Kutipan tersebut juga menggarisbawahi pentingnya menghadapi dan menghilangkan prasangka semacam itu, khususnya di lembaga atau industri yang secara tradisional menjunjung norma-norma tersebut.
Di masa sekarang, kemajuan menuju kesetaraan gender telah menunjukkan bahwa perempuan sama-sama mampu menguasai seni dan ilmu memasak serta memimpin profesi kuliner. Sikap masyarakat berubah seiring dengan semakin sadarnya stereotip berbasis gender yang tidak berdasar. Mendidik calon koki dari segala jenis kelamin dan mempromosikan keberagaman dalam kepemimpinan kuliner adalah langkah penting untuk menghilangkan gagasan kuno tersebut. Pada akhirnya, pengakuan atas bakat individu dan dedikasinya terhadap gender sangat penting untuk menciptakan industri kuliner yang benar-benar adil dan inovatif.