Dalam pernikahan, seorang pria menjadi lamban dan egois, serta mengalami kemerosotan moral yang parah.

Dalam pernikahan, seorang pria menjadi lamban dan egois, serta mengalami kemerosotan moral yang parah.


(In marriage, a man becomes slack and selfish, and undergoes a fatty degeneration of his moral being.)

📖 Robert Louis Stevenson

🌍 Skotlandia  |  👨‍💼 Penulis

🎂 November 13, 1850  –  ⚰️ December 3, 1894
(0 Ulasan)

Robert Louis Stevenson menawarkan perspektif yang agak tajam dan kritis mengenai institusi pernikahan, dengan fokus khusus pada pengaruhnya terhadap karakter pria. Pada pandangan pertama, kutipan tersebut mungkin tampak kasar atau terlalu sinis, menunjukkan bahwa setelah menikah, seorang pria cenderung menjadi "kendur dan egois", mengalami "degenerasi lemak"—sebuah metafora yang menggugah yang menyiratkan bahwa serat moral atau otot etis memburuk di bawah kenyamanan atau kendala pernikahan.

Refleksi ini dapat ditafsirkan dalam beberapa cara. Stevenson mungkin mengomentari rasa berpuas diri yang dapat timbul ketika seseorang sudah terbiasa dengan rutinitas dan rasa aman yang sering kali ditimbulkan oleh pernikahan. Ungkapan "kendur dan egois" menunjukkan menurunnya upaya dan pertimbangan, yang menunjukkan bahwa setelah menikah, laki-laki mungkin memprioritaskan kenyamanan mereka sendiri daripada menjaga tanggung jawab moral dan sosial. Kritik ini mungkin berasal dari pengamatan terhadap norma-norma masyarakat pada masanya, di mana pernikahan kadang-kadang dilihat sebagai perjanjian kontrak atau ekonomi, bukan sekadar kemitraan yang saling mencintai atau setara.

Selain itu, istilah "degenerasi lemak" adalah referensi biologis yang kuat yang secara jelas menggambarkan melemahnya moral secara fisik. Hal ini menunjukkan adanya akumulasi yang tidak sehat, suatu penyakit yang secara inheren merusak landasan etika seseorang. Hal ini mungkin berarti bahwa kerusakan moral tidak terjadi begitu saja, namun terjadi secara bertahap, sering kali tanpa disadari atau diabaikan.

Bercermin pada masa kini, kutipan Stevenson dapat memicu diskusi tentang bagaimana pernikahan menantang individu secara internal. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pernikahan secara inheren mendorong keegoisan karena ketergantungan dan kenyamanan, atau apakah pernikahan dapat menjadi katalisator pertumbuhan dan sikap tidak mementingkan diri sendiri. Hal ini juga mendorong seseorang untuk merenungkan tanggung jawab pribadi—bagaimana individu memilih untuk mempertahankan atau menurunkan etika mereka dalam dinamika hubungan yang terus berubah.

Pernyataan Stevenson tentu saja merupakan kritik tetapi juga ajakan untuk introspeksi. Hal ini mendorong kita untuk tidak terjerumus ke dalam sikap berpuas diri atau mementingkan diri sendiri dan untuk secara aktif memupuk keberanian moral dan integritas kita, apa pun status perkawinan kita. Hal ini mungkin mengundang diskusi tentang pentingnya kesadaran diri dan upaya dalam mempertahankan hubungan yang sehat dan berlandaskan moral, yang dapat memperkaya dan bukannya mengurangi kepribadian kita.

Intinya, meskipun bahasanya provokatif, hal ini berfungsi sebagai pengingat akan penjagaan karakter kita di tengah kenyamanan dan komitmen hidup.

Page views
151
Pembaruan
Mei 22, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.