Pengetahuan segera berubah, lalu hilang dalam kabut, gemanya setengah terdengar.
(Knowledge is soon changed, then lost in the mist, an echo half-heard.)
Kutipan ini menyoroti sifat pengetahuan dan pemahaman yang rapuh dan cepat berlalu. Di dunia di mana informasi terus berkembang, kebenaran yang kita pegang sering kali terdistorsi atau kabur, seperti halnya ingatan yang memudar atau bergeser seiring berjalannya waktu. Gambaran tentang pengetahuan yang berubah dan kemudian menghilang 'dalam kabut' menimbulkan rasa ketidakpastian—hal-hal yang tadinya tampak jelas menjadi kabur karena waktu atau salah tafsir. Ungkapan 'gema setengah terdengar' menunjukkan bahwa persepsi kita terhadap pengetahuan seringkali tidak lengkap atau terdistorsi, seperti bagaimana gema suara berkurang dan kehilangan detailnya jauh sebelum mencapai telinga kita sepenuhnya. Hal ini menekankan kecenderungan manusiawi kita untuk memahami, meskipun apa yang kita pegang sering kali berada di luar jangkauan, entah tidak lengkap atau hanya bayangan dari aslinya. Hal ini menggarisbawahi pentingnya melestarikan dan mengkaji secara kritis apa yang kita anggap sebagai pengetahuan, mengakui ketidakkekalan dan kerentanan terhadap distorsi. Hal ini juga berfungsi sebagai pengingat bahwa apa yang dianggap sebagai kebenaran mungkin hanya merupakan versi yang dipengaruhi oleh perspektif, ingatan, dan konteks. Dalam pengertian yang lebih luas, kutipan ini mendorong kerendahan hati terhadap klaim kita terhadap kepastian dan mengingatkan kita bahwa pemahaman kita harus terus dipertanyakan dan disempurnakan. Pada akhirnya, ini adalah meditasi puitis tentang sifat pengetahuan yang fana di dunia yang kompleks dan selalu berubah, yang mendorong kita untuk mendekati pemahaman dengan rasa ingin tahu dan hati-hati.