Guru kelas dua saya berkeliling kelas dan menanyakan kepada semua orang apa yang akan mereka lakukan ketika mereka besar nanti. Saya berkata, 'Saya ingin berkeliling dunia,' dan dia berkata, 'Kamu akan menikah dan hamil pada usia 21 tahun, sama seperti semua gadis di ruangan ini.'

Guru kelas dua saya berkeliling kelas dan menanyakan kepada semua orang apa yang akan mereka lakukan ketika mereka besar nanti. Saya berkata, 'Saya ingin berkeliling dunia,' dan dia berkata, 'Kamu akan menikah dan hamil pada usia 21 tahun, sama seperti semua gadis di ruangan ini.'


(My second-grade teacher went around the class and asked everybody what they were going to be when they grew up. I said, 'I want to travel the world,' and he said, 'You'll be married and pregnant by 21, just like all the girls in this room.')

📖 Campbell Brown

🌍 Amerika

(0 Ulasan)

Kutipan ini menyoroti dampak pengaruh sosial dan pendidikan awal terhadap aspirasi anak. Mimpi polos pembicara untuk berkeliling dunia ditanggapi dengan prediksi stereotip yang meremehkan berdasarkan norma gender, yang menggambarkan bagaimana bias dapat membentuk persepsi tentang potensi. Hal ini mencerminkan pola budaya yang lebih luas dimana anak perempuan sering kali secara halus diarahkan atau dibatasi dalam ambisi mereka, mungkin secara tidak sadar, terhadap peran tradisional seperti pernikahan dan peran sebagai ibu. Komentar awal dari seorang guru ini menggarisbawahi bagaimana figur otoritas dapat mempengaruhi citra diri seorang anak, terkadang menghambat kreativitas dan aspirasi yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Pernyataan tersebut mengandung nada frustrasi, mengakui penguatan stereotip gender yang terus-menerus dapat membatasi individu. Hal ini juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya membina lingkungan di mana anak-anak merasa terdorong untuk mengejar kepentingan sejati mereka tanpa bayangan prasangka. Anak-anak kecil mudah terpengaruh, dan dorongan atau keputusasaan sejak dini dari pihak yang berwenang dapat berdampak jangka panjang pada kepercayaan diri dan tujuan masa depan mereka. Mengenali bias yang sudah mendarah daging ini sangatlah penting jika masyarakat ingin mendukung beragam aspirasi bagi semua anak, tanpa memandang gender. Kutipan ini mendorong refleksi tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, dapat menantang stereotip tersebut dan menyediakan lingkungan yang mendukung dan terbuka untuk memelihara dan memberdayakan impian dan ambisi setiap anak.

Page views
30
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.