Mimpi buruk tentang ibu kota yang dilanda tsunami, perang, atau wabah penyakit membuat kita terpesona, namun bencana pertama kali dirasakan secara lokal, dan terdapat banyak rumah di luar kota.

Mimpi buruk tentang ibu kota yang dilanda tsunami, perang, atau wabah penyakit membuat kita terpesona, namun bencana pertama kali dirasakan secara lokal, dan terdapat banyak rumah di luar kota.


(Nightmares of a capital city overwhelmed by tsunami, war or plague transfix us, but catastrophe is first felt locally, and there are many homes outside the city.)

📖 Sarah Hall

🌍 Bahasa inggris  |  👨‍💼 Penulis

(0 Ulasan)

Kutipan ini dengan tajam menggambarkan paradoks persepsi manusia dan dampak bencana yang sering diabaikan di wilayah pinggiran. Ketika membayangkan peristiwa bencana seperti tsunami, perang, atau wabah penyakit, pikiran kita cenderung terfokus pada gambaran paling intens yang terkait dengan pusat kota besar—kekacauan, kehancuran, dan berita utama. Namun, di balik kejadian dramatis ini terdapat kebenaran yang mendalam: penderitaan yang paling awal dan paling langsung sering terjadi di rumah-rumah yang tenang dan sederhana di luar pusat kekacauan. Kesadaran ini mengingatkan kita bahwa krisis tidak hanya terjadi di lokasi-lokasi ikonik, namun juga menyebar ke luar, menyentuh kehidupan yang tak terhitung jumlahnya dengan cara yang lebih halus dan pribadi. Hal ini mendorong perubahan perspektif—memahami bahwa kehancuran tidak hanya terlihat pada momen-momen dramatis namun juga dalam perjuangan sehari-hari yang dihadapi oleh individu dan keluarga di wilayah terpencil atau kurang menonjol. Menyadari hal ini akan melapisi pemahaman kita tentang kerentanan, dan menekankan bahwa kesiapsiagaan dan respons terhadap bencana harus dilakukan tidak hanya di perkotaan, tetapi juga mencakup konteks pedesaan dan pinggiran kota. Kutipan tersebut juga menyoroti universalitas kerapuhan manusia; terlepas dari lokasi atau keadaannya, ancaman bencana bergema secara internal dan sering kali luput dari perhatian hingga ancaman tersebut terwujud secara langsung dalam kehidupan kita sendiri. Merefleksikan perspektif ini menumbuhkan rasa belas kasih dan perhatian terhadap pihak-pihak di luar pengalaman kita—mendorong rasa keterhubungan global yang lebih luas dan tanggung jawab dalam menghadapi krisis.

Page views
110
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.