Referendum dirancang untuk menghindari pemerintahan parlementer, dan masyarakat hanya menuntut referendum ketika mereka merasa tidak bisa mendapatkan mayoritas di parlemen. Mussolini adalah praktisi referendum yang paling cemerlang.
(Referendums are designed to get around parliamentary government, and people only demand referendums when they think they can't get a majority in parliament. Mussolini was the most brilliant practitioner of referendums.)
Kutipan ini menyoroti penggunaan strategis referendum sebagai alat untuk mengabaikan proses parlementer tradisional. Hal ini menggarisbawahi pandangan yang memperingatkan bahwa referendum dapat dimanipulasi atau dieksploitasi untuk mengkonsolidasikan kekuasaan, seperti yang dicontohkan oleh implementasi Mussolini. Meskipun referendum dapat mendorong demokrasi langsung, referendum juga berisiko menjadi instrumen kontrol otoriter jika disalahgunakan. Kutipan ini mendorong refleksi mengenai pentingnya keseimbangan dan kewaspadaan dalam sistem demokrasi untuk mencegah keputusan mayoritas melemahkan institusi dan kebebasan.