Terkadang lebih baik tidak membaca terlalu banyak, tidak mendengarkan semua orang.
(Sometimes it's better to not read too much, to not listen to everybody.)
Kutipan ini menggarisbawahi pentingnya kearifan dalam mengonsumsi informasi dan pengaruh. Di zaman yang didominasi oleh akses cepat terhadap konten yang jumlahnya sangat banyak, ada sebuah pengingat yang halus namun penting di sini: tidak semua informasi bermanfaat atau diperlukan, dan terkadang keheningan atau masukan yang terbatas mendorong pengambilan keputusan dan kejernihan mental yang lebih baik. Paparan terus-menerus terhadap suara-suara eksternal—baik itu media sosial, berita, atau opini—dapat menyebabkan kebingungan, gangguan, atau bahkan kecemasan. Hal ini sering kali melemahkan intuisi pribadi dan kemampuan mendengarkan suara hati seseorang. Dengan memilih untuk mengurangi membaca atau mendengarkan secara selektif, seseorang dapat menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan tujuannya. Pendekatan yang penuh kesadaran ini menganjurkan kualitas dibandingkan kuantitas—mengutamakan sumber terpercaya dan narasi yang bermakna dibandingkan tenggelam dalam lautan detail atau kebisingan kecil. Terkadang, mundur dari obrolan yang tak ada habisnya memungkinkan terjadinya refleksi, kreativitas, dan pertumbuhan yang tulus. Hal ini mendorong kita untuk memercayai pengalaman dan penilaian kita sendiri daripada terlalu dipengaruhi oleh opini luar. Mengambil momen hening dan menyendiri dapat memberikan kejelasan yang sering kali hilang karena rangsangan eksternal yang terus-menerus. Ini adalah pengingat bahwa kedamaian batin dan pengetahuan otentik datang dari pengendalian yang disengaja dan pemilihan kritis terhadap apa yang kita izinkan dalam pikiran kita. Pada akhirnya, kutipan ini memperjuangkan nilai kontemplasi yang tenang dan mendengarkan secara strategis sebagai alat untuk pengembangan pribadi dan kesejahteraan mental.