Jeda yang Anda bicarakan terjadi pada tahun 1998. Saya agak mati rasa karena berada di jalan setiap malam. Saya harus berhenti karena saya lelah secara emosional dan fisik.
(The hiatus you spoke about happened in 1998. I was somewhat numb from being out on the road every night. I had to stop because I was emotionally and physically drained.)
Kutipan ini menunjukkan refleksi yang jujur tentang dampak buruk dari perjalanan dan pertunjukan yang terus-menerus terhadap kesejahteraan seseorang. Individu tersebut menggambarkan periode jeda—disebut sebagai 'hiatus'—yang tampaknya diperlukan setelah melakukan tur atau aktivitas tanpa henti. Perasaan 'mati rasa' menunjukkan rasa kelelahan emosional, di mana orang tersebut memutuskan hubungan atau mematikan rasa untuk mengatasi ketegangan yang sedang berlangsung. Keadaan ini sering kali muncul dari kombinasi kelelahan fisik dan kelelahan emosional, yang menyoroti pentingnya mengenali batasan dan perlunya perawatan diri. Pengakuan bahwa mereka 'keluar jalan setiap malam' menekankan tuntutan gaya hidup yang sering dialami oleh para seniman, artis, atau pelancong, sering kali mengorbankan waktu pribadi, istirahat, dan kesehatan mental demi mengejar keahlian atau kewajiban mereka. Keputusan untuk berhenti didorong oleh kesadaran yang jelas bahwa kelelahan yang terus-menerus dapat merugikan baik secara fisik maupun emosional. Pengakuan yang terus terang ini selaras dengan siapa pun yang pernah mengalami kelelahan atau kesulitan menjaga keseimbangan di tengah jadwal yang sibuk. Hal ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kesuksesan dan dedikasi harus dibayar mahal, termasuk kelelahan dan pengurasan emosi. Selain itu, ini berfungsi sebagai pengingat akan perlunya mendengarkan tubuh dan pikiran serta memprioritaskan kesehatan daripada aktivitas terus menerus. Pada akhirnya, mengakui perlunya istirahat dan pemulihan sangat penting untuk kesejahteraan jangka panjang dan pencapaian yang berkelanjutan, menjadikan pesan ini bersifat universal dan sangat relevan.