Pantai adalah taman alam, tanpa tanaman hijau tetapi pasirnya adalah mainan alami.
(The beach is a natural park, without the greenery but the sand is a natural toy.)
Kutipan ini secara indah menggambarkan pesona pantai dengan membandingkannya dengan taman alam, tempat yang sering diasosiasikan orang dengan tanaman hijau subur dan kehidupan tanaman yang semarak. Namun, pantai menggantikan kehijauan dengan hamparan pasir luas, yang meski tampak tandus, namun penuh dengan kemungkinan dan kenikmatan indrawi. Metafora "pasir adalah mainan alami" sangat bergema, karena pasir berfungsi sebagai tempat bermain kreativitas dan eksplorasi bagi orang-orang dari segala usia. Paragraf dapat ditulis tentang nikmatnya menggali, membangun istana pasir, atau sekadar merasakan butiran pasir tersaring melalui jari. Hal ini menggarisbawahi gagasan bahwa alam menawarkan beragam bentuk keindahan dan permainan, bukan hanya elemen pemandangan yang terlihat jelas atau tradisional. Melalui lensa ini, pantai menjadi ruang ketenangan alam dan interaksi spontan. Kutipan tersebut mengajak seseorang untuk melihat lebih jauh dari definisi konvensional dan mengapresiasi keragaman lanskap alam. Hal ini juga mengingatkan kita bahwa permainan dan alam hidup berdampingan dalam berbagai bentuk dan bahwa kesederhanaan—seperti pasir—dapat memberikan pengalaman yang kaya. Kontras yang melekat dalam kutipan tersebut merangsang rasa takjub dan penghargaan terhadap karakteristik unik dari lingkungan yang berbeda. Ini adalah sebuah ungkapan puitis terhadap fakta bahwa bahkan tempat-tempat yang tidak memiliki tanaman hijau pun memiliki kualitas magis yang dapat menginspirasi kegembiraan dan keterhubungan. Singkatnya, pantai, dengan hamparan pasirnya yang tenang dan ombaknya yang berirama, memiliki kekuatan untuk memikat dan menyenangkan seperti taman mana pun, hanya melalui berbagai aspek taman bermain alam. ---Anuradha Bhattacharyya---