Keindahan distopia adalah memungkinkan kita merasakan dunia masa depan secara langsung - namun kita masih memiliki kekuatan untuk mengubah dunia kita sendiri.
(The beauty of dystopia is that it lets us vicariously experience future worlds - but we still have the power to change our own.)
Kutipan ini menyoroti dualitas yang kuat dalam cara kita memandang masyarakat distopia. Di satu sisi, distopia berperan sebagai kisah peringatan, memungkinkan kita mengeksplorasi potensi masa depan yang muncul dari kelemahan masyarakat saat ini. Mereka berfungsi sebagai cermin, mencerminkan ketakutan, harapan, dan konsekuensi dari tindakan kita jika kita mengabaikan isu-isu penting seperti degradasi lingkungan, kesenjangan sosial, atau otoritarianisme. Dengan menjalani hidup dalam dunia khayalan ini, kita menjadi lebih sadar akan kompleksitas dan risiko yang ada dalam membentuk masa depan kita di dunia nyata. Ada keindahan tertentu dalam perjalanan imajinatif ini; hal ini membangkitkan rasa tanggung jawab kita dan mendorong perubahan proaktif. Kutipan tersebut juga menekankan poin penting: meskipun ada aspek distopia yang menakutkan atau menindas, kekuatan untuk mengubah realitas tetap ada di tangan kita. Hal ini menggarisbawahi pesan harapan dan hak pilihan—tidak peduli betapa menakutkannya masa depan, tindakan yang diambil saat ini dapat menjauhkan kita dari jalan yang berbahaya. Hal ini mengundang kita untuk belajar dari skenario fiksi terburuk dan untuk secara aktif berupaya menciptakan masa depan yang selaras dengan nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, dan keberlanjutan. Oleh karena itu, terlibat dengan narasi distopia dapat menjadi peringatan sekaligus inspirasi—mengingatkan kita bahwa masa depan distopia yang kita takuti bukanlah hal yang tidak dapat dihindari dan tidak dapat diubah. Kita memegang kunci takdir kita, dan melalui kesadaran serta upaya yang disengaja, kita dapat membentuk dunia yang lebih baik, menghindari jebakan yang digambarkan dalam narasi ini.