Hubungan manusia dengan pembakaran sama misteriusnya dengan penuh kegilaan. Dari nyala lilin hingga ledakan nuklir, hal ini telah menyulut imajinasi manusia dengan rasa takut dan terpesona.

Hubungan manusia dengan pembakaran sama misteriusnya dengan penuh kegilaan. Dari nyala lilin hingga ledakan nuklir, hal ini telah menyulut imajinasi manusia dengan rasa takut dan terpesona.


(The human relationship to combustion is as mysterious as it is fraught with madness. From the candle flame to the nuclear blast, it has lit up the human imagination with fear and fascination.)

📖 Michael Leunig


(0 Ulasan)

Kutipan tersebut merangkum hubungan kompleks dan paradoks yang dimiliki manusia dengan pembakaran dan api. Sepanjang sejarah, api telah menjadi alat penting yang memungkinkan kemajuan, inovasi, dan peradaban itu sendiri. Kehangatan dan cahaya yang diberikannya sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, namun juga melambangkan kehancuran dan kekacauan. Dualitas ini—api sebagai pencipta dan penghancur—mencerminkan daya tarik psikologis dan budaya yang lebih dalam terhadap elemen tersebut. Dari nyala lilin yang memupuk keintiman dan kontemplasi hingga kekuatan penghancur persenjataan nuklir, keterlibatan umat manusia dengan api menggambarkan keinginan kita untuk memanfaatkan kekuatannya, yang sering kali disertai dengan ketakutan mendasar akan kehilangan kendali. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa hubungan kita dengan pembakaran tidak hanya bersifat praktis tetapi juga menandakan aspek utama dari kesadaran kita—sebuah kekuatan misterius yang menantang pemahaman kita dan menguji pengendalian kita. Evolusi dari api sederhana menjadi ledakan dahsyat menggarisbawahi bagaimana ambisi dan keingintahuan manusia dapat membawa kita menuju pencerahan dan bahaya. Hubungan seperti itu pada hakikatnya penuh dengan kegilaan karena menyingkapkan keangkuhan dan kerentanan kita, mengingatkan kita akan dominasi alam meskipun ada kemajuan teknologi. Ketertarikan dan ketakutan yang saling terkait ini, didorong oleh kebutuhan dan bahaya, terus mempengaruhi perdebatan budaya, ilmiah, dan etika saat ini. Dalam merenungkan hubungan ini, kita dapat melihatnya sebagai cerminan jiwa kita sendiri—sebuah kisah keingintahuan, penguasaan, dan kerendahan hati yang berkelanjutan dalam menghadapi kekuatan-kekuatan utama yang membuat kita tertarik dan waspada.

Page views
40
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.