Gagasan bahwa waktu adalah ilusi adalah gagasan lama, yang sudah ada sebelum perayaan pesta dansa di Times Square. Hal ini bermula pada zaman Heraclitus dan Parmenides, para pemikir pra-Socrates yang menjadi pokok mata kuliah pengantar filsafat.
(The idea that time is an illusion is an old one, predating any Times Square ball drop or champagne celebrations. It reaches back to the days of Heraclitus and Parmenides, pre-Socratic thinkers who are staples of introductory philosophy courses.)
Kutipan ini menyoroti perdebatan filosofis mendalam seputar sifat waktu. Hal ini mengingatkan kita bahwa konsep-konsep yang sering kita anggap remeh, seperti waktu, telah dipertanyakan dan dieksplorasi selama ribuan tahun. Filsuf seperti Heraclitus dan Parmenides mempertanyakan apakah perubahan dan kekekalan itu nyata, atau waktu hanyalah konstruksi persepsi manusia. Terlibat dalam ide-ide ini mendorong kita untuk memeriksa secara kritis asumsi-asumsi kita tentang realitas dan bagaimana pikiran kita menafsirkannya. Gagasan bahwa waktu mungkin merupakan ilusi mengundang kita untuk mempertimbangkan perspektif berbeda mengenai keberadaan, kesadaran, dan alam semesta itu sendiri, dengan menekankan relevansi penyelidikan filosofis yang tak lekang oleh waktu.