Kita memperhatikan pada orang lain hanya hal-hal yang berhubungan dengan diri kita sendiri. Misalnya, Anda mungkin menganggap seseorang lucu dan brilian, dan saya mungkin menganggap orang yang sama itu bodoh dan menyebalkan. Itu adalah orang yang sama yang melakukan hal yang sama, tetapi karena kita melihatnya dari sudut pandang unik kita sendiri, mereka mencerminkan sesuatu yang berbeda kepada kita.

Kita memperhatikan pada orang lain hanya hal-hal yang berhubungan dengan diri kita sendiri. Misalnya, Anda mungkin menganggap seseorang lucu dan brilian, dan saya mungkin menganggap orang yang sama itu bodoh dan menyebalkan. Itu adalah orang yang sama yang melakukan hal yang sama, tetapi karena kita melihatnya dari sudut pandang unik kita sendiri, mereka mencerminkan sesuatu yang berbeda kepada kita.


(We notice in others only those things that relate to ourselves. For example, you could find someone hilarious and brilliant, and I could find the same person idiotic and annoying. It's the same person doing the same thing, but because we are viewing them from our own unique perspectives, they mirror back to us something different.)

📖 Jen Sincero

🌍 Amerika  |  👨‍💼 Pengarang

(0 Ulasan)

Kutipan ini menyoroti sifat persepsi yang sangat subjektif dan bagaimana pengalaman pribadi, keyakinan, dan emosi kita membentuk cara kita menafsirkan tindakan dan karakteristik orang lain. Hal ini menekankan bahwa penilaian kita sering kali mencerminkan keadaan internal kita dan bukan kebenaran obyektif tentang orang lain. Ketika kita melihat seseorang sebagai orang yang lucu atau cemerlang, hal itu mungkin berhubungan dengan kualitas yang kita kagumi atau ingin kita wujudkan, sehingga memupuk perasaan inspirasi dan kegembiraan. Sebaliknya, menganggap orang yang sama sebagai orang yang bodoh atau menyebalkan mungkin mengungkapkan rasa tidak aman, frustrasi, atau bias dalam diri kita yang mewarnai penilaian kita secara negatif.

Memahami dinamika ini mengundang kita untuk mengembangkan kesadaran diri dan kerendahan hati yang lebih besar. Menyadari bahwa persepsi kita pada dasarnya bias memungkinkan kita untuk mendekati orang lain dengan lebih penuh kasih sayang dan keterbukaan, sehingga mengurangi kesalahpahaman dan konflik. Hal ini menggarisbawahi bahwa reaksi kita bukan hanya mengenai orang lain namun juga mengenai dunia batin kita—kerentanan, pengalaman, dan nilai-nilai kita. Dengan mengeksplorasi refleksi tersebut, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang diri kita sendiri, yang mengarah pada pertumbuhan pribadi dan hubungan yang lebih baik.

Selain itu, kesadaran ini menumbuhkan empati, karena kita menerima bahwa perbedaan perspektif adalah hal yang wajar dan berakar pada sejarah individu. Menerima bahwa persepsi orang lain terhadap seseorang atau situasi berbeda dengan kita tidak berarti mengabaikan penilaian kita, namun memahami asal usulnya. Kesadaran ini dapat membantu kita memupuk kesabaran, mengurangi asumsi, dan menumbuhkan interaksi yang lebih harmonis dengan dunia sekitar kita.

Page views
149
Pembaruan
Desember 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.