Kita harus menemukan cara untuk menghadapi isu-isu yang memecah belah – dan inti dari isu-isu budaya, sering kali adalah agama.
(We've got to find ways of confronting the issues that divide - and at the heart of cultural issues, you often find religions.)
Kutipan ini menggarisbawahi pentingnya mengatasi dan memahami perpecahan yang ada dalam masyarakat, yang sebagian besar berakar pada perbedaan agama. Di dunia yang memiliki latar belakang budaya yang beragam, keyakinan agama sering kali menjadi sumber identitas sekaligus penyebab konflik. Menyadari bahwa agama dapat menjadi penyebab perpecahan dalam masyarakat, mengundang kita untuk menghadapi perbedaan ini dengan empati dan keinginan untuk berdialog. Hal ini menyoroti perlunya memupuk saling pengertian dan rasa hormat, daripada membiarkan perbedaan agama melanggengkan perpecahan dan permusuhan. Tantangannya terletak pada bagaimana mengatasi perbedaan-perbedaan ini dengan bijaksana—mengakui keyakinan agama tanpa membiarkannya menjadi hambatan bagi kohesi sosial atau perdamaian.
Terlibat dalam isu-isu yang memecah belah kita memerlukan komitmen terhadap komunikasi terbuka dan apresiasi terhadap nilai-nilai dan keyakinan yang membentuk perspektif orang lain. Ketika kita menghadapi perbedaan agama secara langsung dan konstruktif, kita menciptakan peluang untuk saling memahami dan berkolaborasi. Proses ini dapat mengarah pada masyarakat yang lebih inklusif dimana keberagaman lebih dihargai dibandingkan ditakuti. Pada akhirnya, kutipan tersebut mengajak kita untuk bersikap proaktif dalam menemukan titik temu di tengah konflik, dan menyadari bahwa seringkali permasalahan budaya dan agama saling terkait. Mengatasi akar permasalahan ini dengan bijaksana tidak hanya mengurangi kesalahpahaman namun juga memperjuangkan gagasan bahwa perdamaian dan kerja sama dapat dicapai bahkan dalam menghadapi perbedaan yang mendalam.