Apa itu kebenaran? Kebenaran tidak benar-benar ada. Siapa yang akan menilai apakah pengalaman saya mengenai suatu kejadian lebih valid dibandingkan pengalaman Anda? Tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya untuk menilai hal itu.
(What is truth? Truth doesn't really exist. Who is going to judge whether my experience of an incident is more valid than yours? No one can be trusted to be the judge of that.)
Kutipan ini sangat menantang konsep kebenaran mutlak dengan mempertanyakan keberadaannya. Hal ini mencerminkan perspektif yang berakar pada relativisme, di mana kebenaran dipandang bukan sebagai realitas yang tetap dan universal, melainkan sebagai pengalaman individual dan subjektif. Pertanyaan retoris yang diajukan menggarisbawahi kompleksitas dalam memahami perspektif mana yang lebih valid, mengakui bias yang melekat pada setiap orang. Dari sudut pandang ini, kebenaran bukanlah sebuah konstanta objektif melainkan sebuah mosaik narasi pribadi, yang masing-masing dipengaruhi oleh konteks, persepsi, dan ingatan yang unik. Pemahaman ini menuntut kerendahan hati dan keterbukaan pikiran ketika berhubungan dengan orang lain, karena hal ini mengingatkan kita bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat mengklaim otoritas eksklusif atas apa yang benar. Sebaliknya, hal ini mengundang dialog berkelanjutan, mendengarkan dengan penuh empati, dan pengakuan terhadap berbagai realitas yang hidup berdampingan. Di dunia yang semakin dibentuk oleh beragam sudut pandang dan informasi yang saling bertentangan, kutipan ini bergema sebagai peringatan terhadap dogmatisme dan dorongan untuk mempercayai kearifan kolektif daripada penilaian tunggal. Pada akhirnya, hal ini mendorong kita untuk menerima kenyataan yang tidak menentu dan menyadari keterbatasan yang ditimbulkan oleh perspektif kita, mendorong pendekatan yang lebih inklusif dan penuh kasih sayang untuk memahami satu sama lain dan peristiwa-peristiwa yang membentuk kita.