Yang sebenarnya diinginkan orang-orang adalah, bagaimana pendirian saya terhadap agama, spiritualitas, atau Tuhan? Dan menurut saya, jika saya menemukan kata yang paling mendekati, kata itu adalah agnostik.
(What people are really after is, what is my stance on religion or spirituality or God? And I would say, if I find a word that came closest, it would be agnostic.)
Kutipan dari Neil deGrasse Tyson ini mengartikulasikan posisi yang menantang dan membebaskan bagi banyak orang—pendirian agnostisisme mengenai agama, spiritualitas, dan keberadaan Tuhan. Inti dari agnostisisme terletak pada kerendahan hati dan pengakuan akan ketidakpastian. Pendekatan Tyson mengajak kita untuk menyadari bahwa sering kali, rasa ingin tahu yang mendorong di balik pembicaraan tentang kepercayaan tidak hanya berpusat pada doktrin itu sendiri, namun juga pada pertanyaan yang lebih mendalam mengenai sikap pribadi seseorang terhadap hal-hal penting ini.
Pernyataannya mencerminkan pemahaman bahwa kepastian dalam bidang-bidang ini sulit dipahami dan bahwa klaim iman mempunyai bobot filosofis dan eksistensial yang signifikan. Berbeda dengan teisme atau ateisme, yang menganut paham definitif, agnostisisme mencakup keterbatasan pengetahuan dan pengalaman manusia, mendorong eksplorasi spiritualitas yang bijaksana dan berpikiran terbuka. Pendekatan ini sangat relevan di dunia di mana penyelidikan ilmiah dan penalaran berbasis bukti hidup berdampingan dengan beragam tradisi agama.
Identifikasi Tyson sebagai seorang agnostik menunjukkan posisi yang jujur secara intelektual—tidak didorong oleh dogma tetapi oleh kesediaan untuk mempertanyakan dan mempertimbangkan berbagai perspektif tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan. Hal ini menantang kita untuk mengeksplorasi keyakinan kita secara mendalam dan jujur, dan menyadari bahwa menavigasi misteri keberadaan adalah sebuah perjalanan pribadi yang sering kali tidak memiliki jawaban yang mudah. Dengan demikian, menganut agnostisisme dapat memberdayakan, mendorong penyelidikan yang berkelanjutan, dan bukan kepastian yang pasti, yang dengan sendirinya dapat mengarah pada rasa hormat yang lebih besar terhadap pandangan dunia yang berbeda dan pemahaman yang lebih beragam tentang spiritualitas manusia.