Menulis tidak lagi menyenangkan ketika saya menemukan perbedaan antara tulisan yang baik dan buruk dan, yang lebih menakutkan lagi, perbedaan antara tulisan itu dan seni sejati. Dan setelah itu, cambuknya diturunkan.

Menulis tidak lagi menyenangkan ketika saya menemukan perbedaan antara tulisan yang baik dan buruk dan, yang lebih menakutkan lagi, perbedaan antara tulisan itu dan seni sejati. Dan setelah itu, cambuknya diturunkan.


(Writing stopped being fun when I discovered the difference between good writing and bad and, even more terrifying, the difference between it and true art. And after that, the whip came down.)

📖 Truman Capote

🌍 Amerika  |  👨‍💼 Novelis

🎂 September 30, 1924  –  ⚰️ August 25, 1984
(0 Ulasan)

---Truman Capote---

Kutipan ini menangkap realitas proses kreatif yang mendalam dan sering diabaikan. Awalnya, menulis bisa menjadi tindakan yang membebaskan dan menyenangkan—suatu bentuk ekspresi diri yang terasa naluriah dan memuaskan. Namun, ketika seseorang maju dan mulai mengenali nuansa seperti kualitas versus biasa-biasa saja, proses tersebut dapat berubah dari aktivitas yang murni menyenangkan menjadi sesuatu yang sarat dengan kritik diri dan standar yang tinggi. Menemukan perbedaan antara tulisan bagus dan seni asli bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, hal ini mengangkat karya penulis, mendorong mereka menuju penguasaan; di sisi lain, hal ini menimbulkan keraguan, perfeksionisme, dan pengawasan diri yang merusak. Bagi banyak seniman, kesadaran ini dapat mengurangi kegembiraan awal mereka, mengubah menulis menjadi medan pertempuran antara ekspektasi dan kenyataan.

Selain itu, membedakan seni sejati dari kesuksesan yang dangkal atau komersial menambah lapisan kompleksitas lainnya. Seni sejati menuntut kerentanan, ketulusan, dan penguasaan teknis—elemen yang bisa terasa menakutkan setelah dikenali. Pewujudan kriteria ini secara tiba-tiba mungkin membuat penciptaan terasa lebih seperti sebuah beban dibandingkan sebuah tindakan inspirasi spontan. Ungkapan ‘cambuk telah turun’ secara metaforis menunjukkan bahwa pengetahuan baru ini dapat bersifat menghukum, menekan dorongan alami penulis dan mungkin menanamkan rasa takut atau rasa kewajiban dibandingkan kebebasan. Hal ini mencerminkan perjalanan bersama dalam banyak upaya kreatif—di mana upaya mengejar keunggulan kadang-kadang dapat menutupi kegembiraan ciptaan yang murni dan murni, sehingga mengubahnya menjadi upaya mengejar kesempurnaan yang terkadang menyakitkan.

Meskipun demikian, kesadaran ini juga mempunyai potensi untuk berkembang. Hal ini mendorong para penulis untuk menyempurnakan karya mereka dengan niat dan keaslian, tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan karya yang bagus, tetapi juga untuk seni yang bermakna. Transisi ini, meskipun terkadang menyakitkan, sering kali penting dalam perjalanan dari amatirisme menuju penguasaan dan keaslian, yang menyoroti hubungan kompleks antara hasrat dan disiplin dalam mengejar keunggulan artistik.

Page views
32
Pembaruan
Juli 08, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.