Oleh karena itu, cara lain untuk menilai nilai pengalaman keagamaan seorang nabi adalah dengan memeriksa jenis kedewasaan yang telah ia ciptakan, dan dunia budaya yang muncul dari semangat pesannya.

Oleh karena itu, cara lain untuk menilai nilai pengalaman keagamaan seorang nabi adalah dengan memeriksa jenis kedewasaan yang telah ia ciptakan, dan dunia budaya yang muncul dari semangat pesannya.


(Another way of judging the value of a prophet's religious experience, therefore, would be to examine the type of manhood that he has created, and the cultural world that has sprung out of the spirit of his message.)

📖 Muhammad Iqbal

🌍 Pakistan  |  👨‍💼 Penyair

🎂 November 9, 1877  –  ⚰️ April 21, 1938
(0 Ulasan)

Kutipan dari Muhammad Iqbal ini mengundang renungan mendalam tentang bagaimana seseorang dapat mengevaluasi dampak nyata dan keaslian pengalaman spiritual seorang nabi. Pendekatan ini lebih dari sekadar menilai klaim mistik atau ketuhanan, melainkan menekankan hasil nyata—jenis individu yang dibentuk oleh pengaruh nabi dan budaya yang muncul dari ajarannya. Perspektif ini mendorong kita untuk mengkaji 'buah' yang dihasilkan dari iman, dengan menekankan bahwa ketaatan beragama yang sejati harus terwujud dalam transformasi positif baik dalam karakter maupun masyarakat.

Kata-kata Iqbal menarik perhatian pada implikasi praktis dari pengalaman keagamaan: seorang nabi tidak semata-mata ditentukan oleh wahyu pribadi namun oleh dampak abadi pesannya terhadap umat manusia. Hal ini menunjukkan bahwa nilai perjumpaan spiritual dapat diukur dari bagaimana perjumpaan tersebut menginspirasi martabat manusia, pertumbuhan etika, dan pengayaan budaya. Dengan berfokus pada 'tipe kejantanan' yang diciptakan, kutipan tersebut menggarisbawahi terbentuknya kualitas-kualitas mulia seperti keberanian, integritas, empati, dan kebijaksanaan dalam diri individu, yang kemudian secara kolektif melahirkan dunia budaya yang dinamis.

Sudut pandang ini juga sejalan dengan gagasan bahwa agama adalah kekuatan hidup dan dinamis yang membentuk komunitas dan peradaban. Hal ini membahas aspek progresif dari pengalaman keagamaan, menekankan bahwa spiritualitas divalidasi melalui pengaruh konstruktif dan peremajaan masyarakat. Di era di mana narasi keagamaan seringkali dicermati melalui dogma atau kesesuaian ritual, perkataan Iqbal mengingatkan kita untuk melihat lebih dalam, mencari tanda-tanda vitalitas spiritual dalam karakter dan budaya manusia. Pada dasarnya, kutipan ini menantang kita untuk mengevaluasi agama tidak hanya dari klaim mistiknya tetapi juga dari kekuatan transformatif yang dimilikinya terhadap umat manusia dan peradaban.

Page views
57
Pembaruan
Juni 16, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.