Saya pikir kita harus lebih menantikan kematian daripada yang kita lakukan. Tentu saja semua orang benci untuk pergi tidur atau melewatkan apa pun, tetapi kematian adalah satu-satunya kesempatan kita untuk beristirahat.
(I think we should look forward to death more than we do. Of course everybody hates to go to bed or miss anything but dying is really the only chance we'll get to rest.)
Kutipan ini menawarkan perspektif yang menyegarkan tentang kematian, mendorong kita untuk memandang kematian bukan sebagai rasa takut atau takut, melainkan sebagai transisi yang alami dan tenang. Dalam masyarakat kita, kematian sering dianggap sebagai hal yang tabu, dikaitkan dengan kehilangan, rasa sakit, dan finalitas. Namun, kutipan ini mengundang perubahan perspektif—memandang kematian sebagai bagian hidup yang tak terelakkan dan mungkin menawarkan kedamaian dibandingkan penderitaan. Ini mendorong kita untuk merenungkan sikap kita terhadap istirahat dan peremajaan. Sama seperti kita mencari istirahat setelah hari yang melelahkan untuk memulihkan energi kita, kutipan tersebut menunjukkan bahwa kematian dapat dipandang sebagai peristirahatan terakhir, penghentian perjuangan dan beban hidup. Analogi ini bisa menghibur, karena ia membingkai kematian bukan sebagai musuh namun sebagai kesimpulan yang perlu, mirip dengan tidur yang menyegarkan kita secara fisik dan mental. Lebih jauh lagi, merenungkan kematian dengan cara ini mungkin mendorong kita untuk hidup lebih sadar, menghargai setiap momen daripada takut akan akhirnya. Menyadari universalitas kematian dapat membantu kita menghargai waktu kita yang terbatas dan memprioritaskan pengalaman yang bermakna. Hal ini juga menggarisbawahi pentingnya menemukan kedamaian secara internal, sehingga ketika saatnya tiba, kita dapat menerimanya dengan lapang dada. Sepanjang sejarah, banyak filsafat dan agama yang memandang kematian sebagai sebuah transisi, terkadang sebagai kelahiran kembali atau kelanjutan dalam bentuk lain. Menganut pandangan ini dapat menghasilkan sikap yang lebih tenang dan menerima terhadap kematian kita, mengurangi kecemasan dan menumbuhkan apresiasi yang lebih bermakna terhadap kehidupan itu sendiri. Pada akhirnya, melihat kematian sebagai akhir yang tenang dapat menginspirasi kita untuk hidup lebih utuh, menghargai sifat sementara dari keberadaan kita dan mempersiapkan diri kita secara rohani untuk menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan.