Sedih sekali: apapun yang berhubungan dengan Tuhan, ingin dihilangkan orang.
(It's so sad: anything that has to do with God, people want to dispel.)
Kutipan tersebut menggarisbawahi aspek yang meresahkan dari sifat manusia di mana spiritualitas dan iman sering kali menghadapi skeptisisme atau penolakan langsung. Sepanjang sejarah, masyarakat telah berjuang untuk mendamaikan keyakinan yang berbeda tentang ketuhanan, yang dapat menyebabkan konflik, kesalahpahaman, dan kecenderungan untuk mengabaikan orang-orang yang memegang teguh keyakinan mereka. Di dunia yang semakin didorong oleh rasionalisme dan penjelasan ilmiah, kita mudah menjadi skeptis terhadap hal-hal spiritual, sering kali menganggapnya ketinggalan jaman atau tidak rasional. Namun, iman memberikan kenyamanan, tujuan, dan landasan moral bagi banyak individu. Sikap meremehkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan mungkin berasal dari keinginan untuk tidak bergantung pada otoritas agama, ketakutan akan akuntabilitas, atau keyakinan bahwa keyakinan spiritual tidak sesuai dengan kehidupan modern atau fakta ilmiah. Skeptisisme ini dapat mengurangi kekayaan pengalaman manusia yang tercakup dalam spiritualitas – harapan, cinta, kerendahan hati, dan pencarian makna di luar diri sendiri. Di sisi lain, hal ini juga mencerminkan pergeseran masyarakat menuju sekularisme dan pluralisme, di mana perbedaan keyakinan hidup berdampingan namun seringkali menimbulkan ketegangan. Menyadari dinamika ini menunjukkan betapa pentingnya menumbuhkan rasa saling menghormati dan pengertian, menghargai bahwa spiritualitas dapat menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang dan mengabaikannya dapat memiskinkan tatanan masyarakat. Pada akhirnya, spiritualitas menyentuh pencarian mendasar manusia untuk memahami alam semesta dan tempat kita di dalamnya, sehingga penindasan atau penghinaan terhadap alam semesta merupakan kerugian budaya dan individu.