Laki-laki adalah laki-laki yang mereka butuhkan pasti salah.
(Men are men they needs must err.)
Kutipan ini menyoroti kebenaran abadi tentang sifat manusia: membuat kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari manusia. Dalam upaya kita mencapai pertumbuhan, pengetahuan, dan pemahaman, kesalahan pasti terjadi. Menyadari bahwa kesalahan adalah hal yang wajar, dan bukan tanda kegagalan, mendorong kerendahan hati dan ketahanan. Hal ini mengingatkan kita bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, dan ketidaksempurnaan adalah aspek umum dari kondisi manusia. Perspektif ini memupuk rasa welas asih terhadap orang lain, saat kita semua tersandung pada suatu saat, dan kesabaran terhadap diri kita sendiri saat kita belajar dan bertumbuh. Merangkul kesalahan kita sebagai langkah penting dalam jalur pembangunan akan memberdayakan kita untuk mengambil risiko dan berinovasi, dibandingkan menghindari tantangan karena takut gagal. Selain itu, menerima bahwa kesalahan tidak bisa dihindari akan membantu menghilangkan stigma mengenai kegagalan, dan menciptakan lingkungan yang menghargai pembelajaran dari kesalahan kita. Sepanjang sejarah, banyak penemuan dan kemajuan besar berasal dari kesalahan—kesalahan yang mengarahkan ilmuwan pada hipotesis baru atau penemu yang menyempurnakan desain. Pada tingkat individu, mengakui kesalahan kita dapat menumbuhkan kerendahan hati, keterbukaan, dan kemauan untuk memperbaiki diri. Hal ini menjadi pengingat bahwa nilai kita tidak diukur dari tidak adanya kesalahan, namun dari respon kita terhadap kesalahan tersebut. Pada akhirnya, memahami bahwa 'manusia pasti berbuat salah' membantu kita menerima diri sendiri dan orang lain dengan belas kasih dan kesabaran yang lebih besar, mengakui bahwa pembelajaran adalah perjalanan seumur hidup yang ditandai dengan kesalahan dan koreksi.