Dulu orang mengharapkan novel sastra memperdalam pengalaman hidup; sekarang mereka senang dengan tampilan kepintaran menulis yang berkelanjutan.
(People used to expect literary novels to deepen the experience of living; now they are happy with any sustained display of writerly cleverness.)
Kutipan ini menyoroti pergeseran nilai-nilai sastra dari waktu ke waktu. Secara historis, novel dipandang sebagai sarana untuk mengeksplorasi sifat manusia, memperdalam pemahaman, dan memperkaya persepsi kita tentang kehidupan. Namun saat ini, tampaknya ada apresiasi yang lebih besar terhadap kepenulisan yang menekankan kecerdasan, bahasa yang rumit, dan perangkat gaya yang cerdas daripada wawasan yang mendalam. Perubahan ini mungkin mencerminkan tren budaya yang lebih luas yang memprioritaskan hiburan dan keterlibatan di tingkat permukaan dibandingkan refleksi yang bermakna. Pergeseran seperti ini dapat berdampak pada kedalaman sastra kontemporer, dan berpotensi menghasilkan karya yang lebih menekankan teknik untuk mengesankan pembaca dibandingkan menumbuhkan pemahaman atau hubungan yang tulus. Patut direnungkan bagaimana perubahan ini memengaruhi pengalaman dan ekspektasi pembaca terhadap karya sastra.