Cepat atau lambat, manusia selalu harus memutuskan apakah ia memuja kekuasaannya sendiri atau kekuasaan Tuhan.

Cepat atau lambat, manusia selalu harus memutuskan apakah ia memuja kekuasaannya sendiri atau kekuasaan Tuhan.


(Sooner or later, man has always had to decide whether he worships his own power or the power of God.)

📖 Arnold J. Toynbee

🌍 Inggris  |  👨‍💼 Sejarawan

🎂 April 14, 1889  –  ⚰️ October 22, 1975
(0 Ulasan)

Kutipan dari Arnold J. Toynbee ini menggali dilema mendasar yang dihadapi umat manusia sepanjang sejarah: pilihan antara kemandirian dan kepercayaan pada kekuatan ilahi yang lebih tinggi. Hal ini mencerminkan ketegangan intrinsik dalam sifat manusia—di satu sisi, keinginan kita akan otonomi, kendali, dan kemampuan untuk menentukan nasib kita melalui kekuatan kita sendiri; di sisi lain, pengakuan akan sesuatu yang lebih besar, sering kali dikaitkan dengan kerendahan hati, spiritualitas, dan penyerahan diri.

Ungkapan "cepat atau lambat" menandakan keniscayaan keputusan ini, yang menyiratkan bahwa ini bukanlah pertanyaan apakah melainkan kapan seseorang menghadapi persimpangan jalan ini. Hal ini dapat ditafsirkan pada tingkat pribadi dan masyarakat. Secara individual, hal ini menantang kita untuk mempertimbangkan sumber nilai, motivasi, dan kekuatan yang memandu tindakan kita. Secara kolektif, hal ini menggarisbawahi tema yang berulang dalam peradaban sepanjang masa—apakah masyarakat memprioritaskan ambisi dan kekuasaan manusia atau tunduk pada prinsip-prinsip spiritual atau moral yang berakar pada keyakinan.

Dikotomi yang dihadirkan Toynbee sangat tegas namun menggugah pikiran. Menyembah kekuatan diri sendiri dapat menyebabkan keangkuhan, tirani, dan mementingkan diri sendiri, sedangkan menyembah kekuatan Tuhan dapat menginspirasi kerendahan hati, kasih sayang, dan rasa memiliki makna yang melampaui diri sendiri. Namun, pernyataan ini juga mengundang refleksi atas beragam penafsiran mengenai “kuasa Tuhan” di berbagai budaya dan agama, sehingga menyoroti sifat universal dari penyelidikan manusia ini.

Intinya, kutipan ini merangkum perjuangan manusia yang tak lekang oleh waktu: pencarian identitas dan tujuan, yang berlabuh pada diri sendiri atau pada ketuhanan. Hal ini mendorong introspeksi mengenai di mana kita menaruh kepercayaan dan kesetiaan kita, yang tidak hanya menentukan nasib individu namun juga arah sejarah umat manusia yang lebih luas.

Page views
41
Pembaruan
Juni 12, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.