Meski pancaran cahaya yang tadinya begitu terang kini hilang selamanya dari pandanganku. Meskipun tidak ada yang bisa mengembalikan kemegahan rumput, kejayaan bunga. Kami tidak akan berduka, melainkan menemukan kekuatan dalam apa yang masih tertinggal.

Meski pancaran cahaya yang tadinya begitu terang kini hilang selamanya dari pandanganku. Meskipun tidak ada yang bisa mengembalikan kemegahan rumput, kejayaan bunga. Kami tidak akan berduka, melainkan menemukan kekuatan dalam apa yang masih tertinggal.


(Though the radiance which was once so bright be now forever taken from my sight. Though nothing can bring back the hour of splendor in the grass, glory in the flower. We will grieve not, rather find strength in what remains behind.)

📖 William Wordsworth

🌍 Bahasa inggris  |  👨‍💼 Penyair

🎂 April 7, 1770  –  ⚰️ April 23, 1850
(0 Ulasan)

Kutipan yang menyentuh ini dengan indah menggambarkan kecenderungan manusia untuk berduka atas hilangnya momen-momen menyenangkan sekaligus menyadari pentingnya ketahanan dan rasa syukur atas apa yang bertahan. Gambaran cahaya dan kemegahan membangkitkan rasa kenangan berharga dan keindahan sekilas, mengingatkan kita bahwa pengalaman hidup yang paling cemerlang sering kali hanya bersifat sementara. Namun, pembicaranya menganjurkan perubahan perspektif—daripada berkutat dalam kesedihan atas apa yang telah hilang, kita harus mengambil kekuatan dari apa yang masih tersisa. Sikap ini menumbuhkan ketahanan emosional, mendorong kita untuk menghormati kegembiraan masa lalu tanpa terjebak dalam duka. Hal ini sejalan dengan prinsip universal: penerimaan terhadap perubahan sangat penting untuk pertumbuhan. Siklus alam—rumput berubah menjadi bunga, pergantian musim—berfungsi sebagai metafora untuk ketidakkekalan dan pembaruan kehidupan. Melalui sudut pandang ini, kehilangan menjadi bagian integral dari pengalaman manusia, mendorong kita untuk menghargai kenangan sekaligus menemukan stabilitas dalam kehadiran dan kemungkinan-kemungkinan di masa depan. Refleksi seperti ini mendorong kesadaran dan rasa syukur, serta mengingatkan bahwa meskipun kita tidak dapat mengendalikan berlalunya waktu, kita dapat memilih sikap kita terhadap perubahan. Pada akhirnya, kutipan ini berbicara tentang semangat manusia yang abadi, menekankan harapan, ketahanan, dan cahaya abadi dalam diri kita meskipun ada bayang-bayang kehidupan yang tak terelakkan.

Page views
28
Pembaruan
Juni 25, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.