Mereka yang dianggap paling hina dan rendah hati biasanya adalah orang yang paling ambisius dan iri hati.

Mereka yang dianggap paling hina dan rendah hati biasanya adalah orang yang paling ambisius dan iri hati.


(Those who are believed to be most abject and humble are usually most ambitious and envious.)

📖 Baruch Spinoza

 |  👨‍💼 Filsuf

🎂 November 24, 1632  –  ⚰️ February 21, 1677
(0 Ulasan)

Kutipan dari Baruch Spinoza ini mengeksplorasi sifat kerendahan hati dan ambisi manusia yang kompleks dan seringkali paradoks. Hal ini menunjukkan bahwa individu yang secara lahiriah menunjukkan kerendahan hati atau tampak rendah hati mungkin menyembunyikan ambisi atau rasa iri yang kuat di balik penampilan luarnya. Di permukaan, kerendahan hati sering kali dirayakan sebagai suatu kebajikan, yang menandakan kesadaran diri, kesopanan, dan integritas moral. Namun, wawasan Spinoza mengundang kita untuk mempertimbangkan bahwa kerendahan hati seperti itu terkadang hanya sekedar kedok, menutupi hasrat mendalam akan kekuasaan, pengakuan, atau kesuksesan. Dualitas ini mencerminkan kecenderungan manusia untuk menampilkan diri secara sederhana sambil diam-diam memendam ambisi atau rasa iri terhadap prestasi atau status orang lain. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keaslian—apakah kerendahan hati yang sejati itu asli atau hanya sekedar lapisan sosial. Menyadari dikotomi ini dapat memperdalam pemahaman kita tentang interaksi sosial dan motivasi pribadi, mendorong kita untuk melihat lebih jauh dari apa yang tampak di permukaan dan mempertimbangkan dorongan mendasar yang membentuk perilaku. Hal ini merupakan pengingat bahwa penampilan luar mungkin tidak selalu mencerminkan realitas batin dan bahwa kebajikan seperti kerendahan hati kadang-kadang bisa menjadi kamuflase untuk emosi manusia yang lebih kompleks dan kurang mengagumkan. Wawasan seperti itu dapat menumbuhkan kesadaran diri yang lebih besar, mendorong kita untuk merenungkan motif kita yang sebenarnya. Dalam konteks yang lebih luas, kutipan ini menantang penilaian moral sederhana yang sering dibuat mengenai kerendahan hati dan ambisi, yang menunjukkan bahwa sifat manusia itu berlapis-lapis dan bahwa kebajikan dan keburukan sering kali hidup berdampingan dalam diri individu. Memahami pandangan yang berbeda ini dapat menghasilkan penilaian yang lebih penuh belas kasih terhadap orang lain dan penilaian yang lebih jujur ​​terhadap motivasi kita sendiri, yang pada akhirnya menumbuhkan kehidupan etis yang lebih otentik.

Page views
42
Pembaruan
Agustus 23, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.