Teman-teman berpendapat bahwa saya adalah orang yang paling tidak memenuhi syarat untuk berbicara tentang kebahagiaan, karena saya sering merasa sedih, dan terkadang mengalami depresi berat. Tapi saya pikir dari situlah kualifikasi saya berasal. Karena mengetahui kebahagiaan, ada baiknya mengetahui ketidakbahagiaan.

Teman-teman berpendapat bahwa saya adalah orang yang paling tidak memenuhi syarat untuk berbicara tentang kebahagiaan, karena saya sering merasa sedih, dan terkadang mengalami depresi berat. Tapi saya pikir dari situlah kualifikasi saya berasal. Karena mengetahui kebahagiaan, ada baiknya mengetahui ketidakbahagiaan.


(Friends have suggested that I am the least qualified person to talk about happiness, because I am often down, and sometimes profoundly depressed. But I think that's where my qualification comes from. Because to know happiness, it helps to know unhappiness.)

📖 Alastair Campbell

🌍 Inggris

(0 Ulasan)

Kutipan ini menggarisbawahi pemahaman mendalam tentang lanskap emosional manusia. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan sekedar keadaan yang sulit dipahami atau ideal untuk dicita-citakan tanpa memahami pasangannya—kesedihan atau ketidakbahagiaan. Seringkali masyarakat memandang kebahagiaan sebagai tujuan yang ingin dicapai, momen puncak kegembiraan atau kepuasan. Namun, nuansa individu dari perasaan benar-benar bahagia hanya dapat diapresiasi sepenuhnya dengan mengalami titik terendah dalam hidup. Ketika seseorang pernah mengalami kesedihan atau depresi, kontrasnya membuat momen kebahagiaan menjadi lebih pedih dan bermakna. Ini mengingatkan kita bahwa ketahanan dan kedalaman emosi berkembang dari menghadapi kesulitan. Pengalaman seperti ini dapat memperkaya kapasitas kita untuk berempati dan membantu kita memahami bahwa kebahagiaan bukan sekadar tidak adanya rasa sakit, namun sebuah keadaan yang lebih kita hargai ketika kita menyadari kelangkaannya. Keterbukaan mengenai perjuangan pribadi melawan depresi menambah keaslian wawasan ini, menekankan bahwa mengakui kerentanan kita bukanlah kelemahan namun merupakan jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas kehidupan. Pada akhirnya, kutipan ini menganjurkan untuk merangkul semua aspek pengalaman emosional, mengetahui bahwa apresiasi sejati terhadap kebahagiaan berkembang dari pemahaman masa-masa kelam, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa syukur yang tulus dan pertumbuhan internal.

Page views
45
Pembaruan
Juli 20, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.