Bukan hanya masyarakat termiskin yang paling dermawan, tapi mereka juga tidak mengharapkan imbalan apa pun, apalagi pengakuan dari orang lain dengan cara pamer atau membual seperti yang dilakukan banyak orang di masyarakat kebanyakan. Anda dapat mengidentifikasi orang-orang ini melalui banyaknya foto yang mereka posting, secara harfiah dengan tangan terangkat, memamerkan apa yang telah mereka lakukan untuk "orang yang kurang beruntung". Saya kira mereka melewatkan bagian di mana Tuhan memerintahkan untuk rendah hati dan melakukan perbuatan baik secara pribadi.

Bukan hanya masyarakat termiskin yang paling dermawan, tapi mereka juga tidak mengharapkan imbalan apa pun, apalagi pengakuan dari orang lain dengan cara pamer atau membual seperti yang dilakukan banyak orang di masyarakat kebanyakan. Anda dapat mengidentifikasi orang-orang ini melalui banyaknya foto yang mereka posting, secara harfiah dengan tangan terangkat, memamerkan apa yang telah mereka lakukan untuk "orang yang kurang beruntung". Saya kira mereka melewatkan bagian di mana Tuhan memerintahkan untuk rendah hati dan melakukan perbuatan baik secara pribadi.


(Not only are the poorest people the most generous, but they don't expect anything in return, least of all recognition from others by means of showing off or posting a humble brag like so many from average society do. You can identify these people through the abundance of photos they post, literally with their hands in the air, showing off what they've done for the "less fortunate." I guess they missed the part where God said to be humble and to do good works in private.)

(0 Ulasan)

Kutipan ini menawarkan refleksi mendalam tentang sifat asli altruisme versus tindakan amal yang dangkal. Hal ini menyoroti bahwa kebaikan dan kemurahan hati yang sejati sering kali dilakukan secara diam-diam dan tanpa mencari pengakuan atau pengakuan dari orang lain. Banyak individu, khususnya masyarakat awam, mungkin terlibat dalam tindakan amal yang terlihat untuk mendapatkan pujian atau status sosial, sering kali melalui postingan foto atau membual tentang perbuatan mereka. Perilaku seperti ini dapat dianggap lebih dimotivasi oleh ego dibandingkan dengan belas kasih sejati. Sebaliknya, mereka yang benar-benar dermawan, sering kali berada di antara mereka yang kurang beruntung, bertindak dengan rendah hati, melakukan perbuatan baik secara diam-diam, tanpa perlu pengakuan. Perbedaan ini menggarisbawahi pentingnya kebajikan autentik dibandingkan kemurahan hati performatif. Hal ini juga mengangkat poin etika penting yang berakar pada ajaran spiritual — bahwa kerendahan hati dalam memberi adalah suatu kebajikan, dan bahwa kebaikan moral sejati terwujud dalam sikap pribadi dan tindakan tanpa pamrih. Media sosial telah memperumit situasi ini, sehingga kita mudah terjebak dalam upaya mencari validasi melalui tampilan publik. Kutipan tersebut berfungsi sebagai pengingat untuk memeriksa motif dan ketulusan tindakan kita, mendorong kita menuju kerendahan hati dan kebaikan sejati. Dengan melakukan hal ini, kita menghormati semangat amal yang sebenarnya dan mengakui bahwa kebajikan seperti kerendahan hati dan pengorbanan diri lebih terpuji dibandingkan penampilan luar dari kemurahan hati yang sering digambarkan secara online.

Page views
43
Pembaruan
Juli 14, 2025

Rate the Quote

Tambah Komentar & Ulasan

Ulasan Pengguna

Berdasarkan 0 ulasan
5 Bintang
0
4 Bintang
0
3 Bintang
0
2 Bintang
0
1 Bintang
0
Tambah Komentar & Ulasan
Kami tidak akan pernah membagikan email Anda dengan orang lain.