Kenikmatan terbesar hanya dipisahkan sedikit dari rasa jijik.
(The greatest pleasures are only narrowly separated from disgust.)
Kutipan dari Marcus Tullius Cicero ini menyoroti hubungan yang kompleks dan seringkali paradoks antara kesenangan dan rasa jijik. Hal ini mengingatkan kita bahwa apa yang membuat kita sangat gembira atau puas terkadang bisa menimbulkan rasa jijik atau tidak nyaman. Dualitas ini mengundang perenungan yang lebih dalam terhadap pengalaman dan emosi manusia, yang menunjukkan bahwa kesenangan tidak selalu murni dan lugas. Dalam kehidupan, batasan antara apa yang diinginkan dan apa yang menjijikkan mungkin lebih tipis dari yang kita sadari, hal ini mencerminkan sifat persepsi dan penilaian moral dan indera kita yang berbeda-beda.
Dari sudut pandang filosofis, kutipan ini menantang kita untuk mempertimbangkan bagaimana keinginan dan kebencian kita saling terkait. Banyak kesenangan yang mungkin melibatkan unsur pelanggaran, risiko, atau pemanjaan diri yang, jika dilakukan terlalu jauh, dapat menimbulkan konsekuensi negatif, sehingga menimbulkan rasa jijik. Hal ini juga menunjukkan sifat subjektif dari kesenangan dan rasa jijik: apa yang menyenangkan bagi seseorang bisa jadi menjijikkan bagi orang lain. Ide ini dapat diterapkan pada beragam konteks, mulai dari makanan dan seni hingga emosi dan pilihan etis.
Lebih lanjut, pengamatan Cicero dapat diinterpretasikan secara psikologis, di mana kegembiraan atas kesenangan tertentu mungkin melibatkan menghadapi ketakutan, tabu, atau hal asing, yang membawa unsur intrinsik berupa ketidaknyamanan atau rasa jijik. Mengakui kedekatan ini membantu kita memahami kompleksitas perasaan kita dan keseimbangan halus yang diperlukan untuk mempertahankan kesenangan tanpa berubah menjadi rasa jijik. Hal ini meningkatkan kesadaran kita akan garis tipis yang ada dalam pengalaman manusia, mengundang keterlibatan penuh perhatian dan reflektif dengan sumber kebahagiaan terbesar kita.